AYOJAKARTA.COM - Salah satu variabel yang menjadikan debat pamungkas cagub Pilkada Jakarta menjadi menarik adalah adanya rivalitas antara paslon nomor urut 1 (Ridwan Kamil- Suswono) dan 3 ( Pramono Anung- Rano Karno).
Hasil perolehan survei elektabilitas dari dua kandidat Pilkada Jakarta yang sangat sangat kompetitif, berdampak memunculkan warna tersendiri dalam debat pamungkas.
Sehingga momentum ajang debat Pilkada Jakarta yang terjadi antara paslon satu dan tiga terlihat cukup kental dan mendominasi selama acara berlangsung.
Baca Juga: KJP untuk Sekolah Negeri dan Swasta Berbeda? Begini Ternyata yang Sebenarnya
Namun demikian, dari ketiga kandidat yang hadir paslon nomor urut dua justru terlihat dan terkesan sangat bebas dan tidak terikat.
Sayangnya saat menggagas mengenai konsep pembangunan Jakarta masa depan, para kandidat cagub seperti mengabaikan kebutuhan pemilihnya.
Substansi debat pamungkas yang digelar semalam, lebih banyak berorientasi pada pertarungan antara program.
Akibatnya, tata rencana perkotaan yang digagas juga cenderung lebih tertuju pada masyarakat di segmen menengah ke atas.
Tanggapan mengenai acara debat pamungkas Pilkada Jakarta tersebut merupakan pandangan pengamat politik Hendri Satrio.
“Sudah baik, hanya saja bicara tentang manusianya agak kurang di debat satu sampai tiga,” ungkap Hendri saat dimintai tanggapan.
Baca Juga: 3 HP Xiaomi Redmi Harga 3 Juta sampai 4 Jutaan Terbaik Akhir Tahun 2024
Terkait dengan potensi perubahan elektabilitas pasca debat pamungkas, Hendri menilai tidak akan membawa banyak perubahan terhadap para paslon.
Mengacu pada hasil publikasi sejumlah lembaga survei, elektabilitas warga Jakarta yang masih belum menentukan pilihan berada pada kisaran angka tujuh persen.
“Kalau tujuh persen dibagi dua atau tiga, maka akan ada yang turun dan juga naik, sehingga sangat mungkin satu putaran,” jelas Hendri.
Berbeda pandangan dengan Hendri Satrio, Sejarawan JJ Rizal menilai acara debat peserta Pilkada Jakarta tidak secara signifikan mencerminkan muatan esensial.
Pernyataan-pernyataan yang disampaikan oleh para paslon, menurut JJ lebih cenderung memiliki persamaan dibandingkan perbedaan.
“Saya nyeri pada penyeragaman, misalnya dalam konsep strategis nasional, itu kan seragam semua,” ungkapnya.
Karena menyangkut proyek nasional, keberanian dari para paslon untuk menunjukkan perbedaan pandangan menjadi kurang terlihat.
Lebih lanjut JJ menilai, salah satu permasalahan yang sering mengakibatkan sejumlah permasalahan di Jakarta adalah karena adanya Proyek Strategis Nasional (PSN).
Reklamasi, Giant Sea Wall, menurut JJ merupakan beberapa persoalan pembangunan nasional yang kurang berdampak pada kehidupan nelayan.
Memiliki korelasi yang cukup mendasar dengan peran-peran pemerintahan di tingkat pusat, JJ menilai para kandidat cagub cenderung kurang berani mengekspresikan gagasan.
“Tiga kali debat, tiga kali kita mendapatkan hal yang membosankan,” pungkas JJ terkait keseluruhan acara debat cagub. ***

Share this article
Tanggapan mengenai acara debat pamungkas Pilkada Jakarta tersebut merupakan pandangan pengamat politik Hendri Satrio.