AYOJAKARTA.COM - Yogyakarta identik dengan kata istimewa di mana memiliki banyak tradisi di dalamnya.
Terutama pada bulan Ramadan, Yogyakarta memiliki tradisi yang setiap tahunnya dilaksanakan termasuk tradisi malam selikuran.
Malam selikuran atau malam ke 21 saat bulan Ramadan diperingati untuk menyambut malam Lailatul Qadar.
Baca Juga: Road to Ramadan, Berikut 5 Amalan Sambut Ramadan menurut Ustaz Abdul Somad.
Malam Lailatul Qadar ada pada malam ke 10 terakhir umat Islam menjalani ibadah puasa pada bulan Ramadan terutama tanggal-tanggal ganjil.
Jelang Ramadan 2023 tiba (22 atau 23 Maret 2023), berarti malam Lailatul Qadar diperkirakan jatuh sejak tanggal 12 sampai dengan 22 April 2023.
Tradisi malem selikuran di Yogyakarta ini juga mengingatkan kepada masyarakat setempat untuk meningkatkan amal dan ketaqwaan pada 10 hari terakhir dalam bulan Ramadan.
Baca Juga: Bolehkah Penderita Maag Menjalani Puasa Ramadan? Begini Penjelasan Dokter
Dikutip AyoJakarta.com dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, menjelang akhir Bulan Ramadan DIY ( Daerah Istimewa Yogyakarta ) menggelar Hajad Dalem Malam Selikuran.
Malam selikuran di dalam bahasa Jawa dimaknai sebagai sing linuwih ing tafakur, yang berarti sebuah ajakan untuk lebih intensif meraih ridha Allah SWT.
Biasanya tradisi malam selikuran di Yogyakarta dipimpin oleh Kanjeng Raden Tumenggung ( K.R.T ) yang merupakan Abdi Dalem berpangkat Bupati dalam lingkungan keraton Yogyakarta.
Malem Selikuran ini diawali dengan prosesi pembacaan ayat suci Al Quran, kemudian dilanjutkan pembacaan dzikir sambil menunggu buka puasa tiba.
Disela-sela sebelum adzan Maghrib berkumandang dilakukan pembacaan tausiah oleh sesepuh atau dituakan di lingkungan Keraton dan ditutup dengan membacakan doa untuk kesejahteraan Sri Sultan, keluarga, Abdi Dalem serta seluruh masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta.
Tak lupa juga telah dipersiapkan menu untuk berbuka puasa oleh Abdi dalem Patehan untuk dimakan pada malam selikuran dan dibawa pulang oleh abdi dalem sebagai berkat.
Baca Juga: Road to Ramadan 2023: Syaban adalah Bulan yang Terlupakan? Ini Kata Ustaz Adi Hidayat!
Setelah semua selesai dan pulang, tradisi malem selikuran dilanjutkan dengan prosesi penyalaan lilin saat matahari terbenam di malam tanggal 21 puasa dan malam-malam ganjil selanjutnya sampai Gema Takbir dikumandangkan saat Idhul Fitri tiba.
Penyalaan lilin ini dilakukan oleh Abdi Dalem Keparak yang berarti Abdi Dalem yang paling dekat dengan Sultan Ngayogyakarto.
Lilin yang sudah menyala tersebut diletakan disudut-sudut tertentu dalam komplek kedhaton yang menandakan pelita bagi arwah para leluhur yang datang berkunjung.
Malem selikuran dilakukan tidak hanya di sekitar lingkungan Keraton saja namun di sudut-sudut kota dan pelosok desa yang ada di Yogyakarta juga serentak melakukan malem selikuran.
Malem selikuran di Yogyakarta berawal sejak dakwah Wali Sanga dan hingga kini tradisi malem selikuran di Daerah Istimewa Yogyakarta masih terus dilestarikan.***

Share this article
Malem selikuran adalah tradisi di Yogyakarta untuk menyambut malam Lailatul Qadar, biasanya diawali dengan pembacaan Al Quran.