AYOJAKARTA.COM – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperingatkan gempa megathrust yang akan mengguncang Indonesia.
Megathrust yang ‘hanya tinggal menunggu waktu’ ini dapat memicu gempa bumi berkekuatan dahsyat hingga M8,7 dan tsunami di sejumlah daerah di Indonesia.
Ketua BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan bahwa pergerakan megathrust sudah terjadi beberapa kali dan tidak serentak karena terdiri dari beberapa segmen.
Dari banyaknya segmen megathrust hampir semua sudah bergerak, kecuali Siberut dan Banten Selat Sunda.
“Jadi bergeraknya itu tidak serempak sekali bergerak, tapi beberapa bagian bersegmen-segmen. Diantara banyak segmen itu sebetulnya hampir semua sudah bergerak, kecuali ada dua segmen yang belum bergerak yaitu segmen yang di Siberut dan Banten Selat Sunda,” kata Dwikorita dikutip dari kanal YouTube Metro TV pada Minggu (18/8/2024).
Dwikorita menjelaskan megathrust sudah mulai bergerak di tahun 1804 yang memicu gempa dan tsunami di Jawa Tengah.
Baca Juga: Anies Baswedan Ungkap KTP 2 Anak dan Timnya Dicatut untuk Dukung Bakal Cagub Independen
Kemudian, gempa dan tsunami juga pernah terjadi di Jawa Timur pada tahun 1818, Jawa Timur tahun dan Yogyakarta di tahun 1840, dan Jawa Barat tahun 1857.
Pergerakan tersebut juga berlangsung di tahun 1859, 1921, 1994, dan yang terakhir pada 2006 lalu.
Dwikorita mengungkapkan pergerakan tersebut tidak terjadi serentak karena ada selang waktu tertentu hingga mencapai ratusan tahun.
Saat ini diketahui segmen yang belum bergerak sejak lama adalah Siberut.
Baca Juga: Dengan Tegas, Ahok Sebut KIM Takkan Berani Lawan Kotak Kosong di Pilkada Jakarta
“Jadi sebelumnya itu sudah terbukti bergerak, namun pergerakannya ini ada selang waktu antara pergerakan yang sebelum dan sesudahnya. Nah ini ada selang waktu tertentu, durasi tertentu misalnya sekitar 200 tahunan atau 300 tahunan. Saat ini yang ada di Siberut ini belum bergerak selama selang waktu yang kurang lebih akan terulang lagi, ini belum bergerak,” jelasnya.
Dwikorita menuturkan inilah yang menjadi kewaspadaan BMKG karena masalah megathrust bukan hal yang baru.
Terlebih, ada segmen yang memang sudah ratusan tahun tidak bergerak sehingga dapat ‘meledak’ kapan saja.
“Itulah yang menjadi kewaspadaan apakah yang terakhir sudah terjadi misalnya 200 tahun lalu atau 260 tahun lalu. Namun, sekarang ini sudah masuk ke 260 belum bergerak sehingga kita waspada belajar dari data untuk bersiap-siap, bukan untuk menakut-nakuti. Karena sebetulnya bukan informasi yang baru, info ini sudah banyak kali disampaikan oleh para ilmuwan atau pakar gempa bumi,” tutupnya.

Share this article
Ketua BMKG mengatakan bahwa pergerakan megathrust sudah terjadi beberapa kali dan tidak serentak karena terdiri dari beberapa segmen.