AYOJAKARTA.COM -- Indonesia sedang mengalami penurunan tajam nilai tukar rupiah anjlok yang sempat mencapai titik terendah, yaitu Rp16.611 per dolar AS.
Angka tersebut merupakan level terendah sejak krisis moneter 1998, ketika rupiah sempat menyentuh Rp16.800 per dolar.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, memberikan tanggapan terkait nilai tukar rupiah yang anjlok.
Dalam keterangannya, Menko Airlangga menegaskan bahwa meskipun nilai tukar rupiah mengalami fluktuasi, kondisi perekonomian Indonesia secara fundamental tetap kuat.
“Seperti biasa, nilai rupiah memang berfluktuasi. Namun, secara fundamental, ekonomi kita kuat. Hal ini dibuktikan dengan rebound pasar modal, neraca perdagangan yang stabil, serta cadangan devisa yang masih dalam kondisi bagus,” ujar Airlangga dikutip dari YouTube KOMPASTV, Kamis (27/3).
Menteri Airlangga juga menambahkan bahwa dalam jangka menengah dan panjang, Indonesia memiliki prospek ekspor yang menjanjikan.
“Kita punya ekspor yang bagus, cadangan devisa yang kuat, dan neraca perdagangan yang mendukung. Dengan demikian, fundamental ekonomi kita tetap kokoh meski ada fluktuasi nilai tukar,” jelasnya.
Baca Juga: Jadi Tersangka! Oknum Kepala Cabang Bank Jatim Manipulasi Kredit Lebih dari Setengah Triliun Rupiah
Airlangga menyoroti bahwa salah satu upaya yang telah dijalankan pemerintah adalah pelaksanaan mekanisme ‘Devisa Hasil Ekspor’.
Program ini telah membantu menjaga stabilitas cadangan devisa, sehingga posisi rupiah tidak berada dalam kondisi terpojok.
“Kita sudah melaksanakan program devisa hasil ekspor. Dengan adanya hal itu, kita tidak akan tercorner di masa depan. Fundamental dari devisa hasil ekspor juga akan semakin memperkuat posisi rupiah,” tambahnya.
Pernyataan Mantan Ketum Partai Golkar ini muncul di tengah kekhawatiran pasar global yang kian memanas akibat ketidakpastian ekonomi dan dinamika nilai tukar.
Meskipun terjadi penurunan tajam, ia mengimbau para pelaku ekonomi dan masyarakat untuk tidak panik.
Menurutnya, fluktuasi nilai tukar merupakan fenomena yang wajar dalam sistem ekonomi pasar, asalkan didukung oleh fondasi ekonomi yang kuat.
Dalam konteks pasar modal, Airlangga mencatat bahwa indeks saham telah menunjukkan pemulihan yang signifikan.
Hal ini menjadi salah satu indikator bahwa kepercayaan investor terhadap ekonomi Indonesia masih tinggi.
Baca Juga: Cara Menghasilkan Uang dari HP, YouTube Bisa Jadi Lahan Dapetin Pundi-Pundi Rupiah
Selain itu, peningkatan ekspor dan stabilnya neraca perdagangan menjadi kunci penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
“Pasar modal yang kembali rebound merupakan sinyal positif. Hal ini menunjukkan bahwa ekspektasi investasi masih optimis meski kita menghadapi tekanan nilai tukar,” jelasnya.
Menko Airlangga juga mengingatkan bahwa pergerakan nilai tukar tidak selalu mencerminkan kelemahan ekonomi.
Ia menegaskan bahwa penurunan sementara nilai tukar rupiah merupakan bagian dari dinamika pasar yang bisa terjadi akibat faktor global maupun domestik.
“Kita harus melihat gambaran besar. Fluktuasi itu sifatnya temporer, sementara fundamental ekonomi kita yang didukung oleh ekspor, cadangan devisa, dan neraca perdagangan tetap kuat,” tegasnya.
Sebagai upaya menjaga stabilitas, pemerintah bersama Bank Indonesia juga telah mengambil berbagai langkah kebijakan moneter untuk menekan volatilitas nilai tukar.
Sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter diharapkan mampu meredam dampak negatif fluktuasi dan menjaga kepercayaan pasar.
Secara keseluruhan, tanggapan Menko Airlangga memberikan pesan optimis kepada masyarakat dan pelaku ekonomi bahwa Indonesia memiliki fondasi ekonomi yang kokoh.
Meskipun nilai tukar rupiah mengalami tekanan dan mencapai level terendah sejak 1998, faktor-faktor fundamental yang positif menjadi penyangga utama bagi kestabilan ekonomi nasional.***
Share this article
Indonesia sedang mengalami penurunan tajam nilai tukar rupiah anjlok yang sempat mencapai titik terendah, yaitu Rp16.611 per dolar AS.