AYOJAKARTA.COM - Setelah sempat menuai berbagai masalah, kehadiran gelombang pengungsi Rohingya kian membuat masyarakat merasa resah.
Terlebih setelah pihak kepolisian di Belu, NTT berhasil mengamankan delapan pengungsi Rohingya yang kedapatan memiliki KTP WNI.
Dari pengakuan para pengungsi Rohingya, diketahui mereka mendapatkan KTP WNI palsu tersebut saat berada di Medan.
Buntut dari penemuan pihak kepolisian terhadap pengungsi Rohingya yang memiliki KTP WNI membuat Walikota Medan Bobby Nasution memberi tanggapan.
Menurut Bobby Nasution, pihaknya akan melakukan hukuman berat apabila apa yang terbukti melakukan penyalahgunaan data kependudukan.
“Siapapun aparat dari Pemerintah Kota Medan yang terlibat dalam pembuatan KTP palsu bagi pengungsi Rohingya, akan dihukum berat,” tegasnya.
Ditemukannya kasus sejumlah pengungsi Rohingya yang memiliki KTP WNI membuat sejumlah warganet kembali membicarakan kasus Paween Pongsirin.
Paween Pongsirin merupakan seorang perwira polisi berpangkat Mayor Jenderal yang menangani kasus perdagangan manusia Rohingya di Thailand pada 2015 silam.
Kepiawaian dan kejujuran serta integritasnya dalam melawan kejahatan kelompok mafia membuatnya mendapat tugas menangani kasus perdagangan pengungsi Rohingya.
Keberhasilan Paween dalam mengungkap kasus perdagangan pengungsi Rohingya, bukannya berujung pada penghargaan justru pada pelarian.
Baca Juga: Mutiara Baswedan Putri Anies Bocorkan Fakta Saat Debat Perdana Capres-Cawapres 2024
Pertama kali terungkapnya kasus tersebut berawal dari ditemukannya 30 kuburan massal di perbatasan antara Thailand-Malaysia, di Thailand Selatan.
Dari pengembangan yang dilakukan, kepolisian Thailand berhasil menemukan adanya camp perdagangan manusia atau pengungsi Rohingya.
Setelah lima bulan penyidikan, Paween berhasil menangkap hampir 100 orang sipil yang diduga terlibat dalam perdagangan manusia Rohingya.
Selain dari kalangan sipil, Paween juga berhasil menyeret Letnan Jenderal Manas Kongplan yang merupakan petinggi militer di Thailand, dan sejumlah politisi.
Karena menerbitkan banyak surat penangkapan terhadap sejumlah orang tersebut, kasus penyelidikan yang mulai berhasil dilakukan Paween justru dipaksa berhenti.
Integritas Paween yang kuat dalam menangani kejahatan, dianggap bisa membahayakan pengaruh sejumlah pihak di kepolisian dan pemerintahan Thailand.
Meski dihujani fitnah, ancaman pembunuhan yang dilakukan kelompok tertentu kepada keluarganya membuat Paween meminta suaka ke Australia.
Setelah berhasil membawa keluarganya, Paween kemudian mendapatkan pekerjaan sebagai Pemasang Jok Mobil.
Paween menolak untuk kembali ke negara asalnya, saat parlemen setempat berusaha untuk mengungkap kembali kasus perdagangan pengungsi Rohingya.
Upaya mengungkap sindikat perdagangan manusia Rohingya yang dilakukan di Thailand dan kini kian marak di Indonesia, disikapi oleh warganet.
“Jangan-jangan Rohingya berdatangan berjilid-jilid ke Indonesia ada campur tangan pemerintahan,” komentar warganet pemilik akun @*kugantengban*. ***

Share this article
Buntut dari penemuan pihak kepolisian terhadap pengungsi Rohingya yang memiliki KTP WNI membuat Walikota Medan memberi tanggapan.