AYOJAKARTA.COM - Menghadiri acara dialog publik di Universitas Muhammadiyah Surabaya, capres Prabowo Subianto sempat menyoroti sejarah panjang bangsa Indonesia.
Guna menghadapi situasi dan perkembangan zaman, dalam kesempatan tersebut Prabowo Subianto mengingatkan peran penting dalam menjaga warisan bangsa.
Dalam pembukaan, Prabowo Subianto yang hadir tanpa didampingi Gibran Rakabuming mengawali pidato dengan menyampaikan permintaan maaf.
Tidak hadirnya cawapres Gibran Rakabuming dalam acara tersebut, menurut penjelasan Prabowo Subianto lantaran harus berbagi tugas dan peran.
“Karena ada acara lain yang bersamaan waktunya, di Jawa Timur juga, tapi yang menyelenggarakan adalah Nahdlatul Ulama,” jelas Prabowo.
Sebagai organisasi kemasyarakatan terbesar dan lawas di Indonesia, Prabowo kemudian memuji kiprah dari kedua organisasi tersebut.
Baca Juga: Prabowo Subianto Diprediksi Menangkan Pilpres 2024 Satu Putaran, Pengaruh Gibran Effect?
Menurut Prabowo, salah satu indikator kestabilan dan kemantapan bangsa Indonesia adalah jika kedua organisasi tersebut sudah satu suara.
“Kalau Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah sudah mantap, negara mantap, kira-kira begitu,” ujar Prabowo disambut antusias peserta.
Membahas sejarah panjang bangsa, Prabowo yang akrab dengan dunia militer tidak bisa memungkiri peran Panglima Besar Jenderal Soedirman dalam membela negara.
Baca Juga: Daya Tarik Prabowo Subianto Meningkat di Kalangan Milenial Berkat Popularitas Istilah Gemoy
Keberanian dari Jenderal Soedirman, menurut Prabowo merupakan bekal bagi bangsa Indonesia untuk mempertahankan kedaulatan bangsa.
“Saya besar dari TNI, dan Panglima Besar TNI yang pertama adalah seorang mantan kepala sekolah SMA Muhammadiyah di Purwokerto, yaitu Jenderal Soedirman,” jelasnya.
Berbekal semangat Jenderal Soedirman, dalam kesempatan tersebut Prabowo mengajak seluruh elemen bangsa bangsa untuk tidak melupakan sejarah.
Prabowo berpendapat, menjaga kelestarian dan sumber daya alam Indonesia yang sangat kaya adalah sebuah amanat besar dan terhormat.
Karena itu untuk bisa mendapatkan mandat rakyat dan menjadikan Indonesia sebagaimana harapan pendahulu bangsa, belajar dari sejarah adalah hal utama.
Baca Juga: Hadiri Rakerda APDESI, Prabowo Subianto Curhat karena Tidak Boleh Kampanye dan Bicara Visi Misi
Bangsa yang mengabaikan atau bahkan sampai melupakan sejarah, menurut Prabowo hanya akan berakhir menjadi bangsa yang punah.
“Ini penting saya ingatkan sejarah, bukan kita yang ke Eropa, tapi mereka yang ke kita,” ungkap Prabowo sebelum memulai perumpamaan penjajah sebagai tamu.
Kedatangan tamu yang tidak tahu diri dan berusaha untuk menguasai kekayaan negeri ini, menurut Prabowo harus menjadi batas sikap tegas bangsa Indonesia.
Apabila rakyat memang memberi mandat, Prabowo berkomitmen akan membuat batasan tegas sebagaimana sempat ia nyatakan ketika berdialog dengan atase Jepang.
“Kita tidak mengizinkan sumber kekayaan kita dijual murah kepada bangsa lain,” tegas Prabowo dikutip AyoJakarta.com, Jumat 24 November 2023 dari kanal YouTube Kompas TV. ***

Share this article
Membahas sejarah panjang bangsa, Prabowo Subianto tidak bisa memungkiri peran Panglima Besar Jenderal Soedirman dalam membela negara.