AYOJAKARTA.COM – Ketua Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yaitu Dwikorita Karnawati menyampaikan adanya potensi cuaca ekstrim pada saat Natal hingga tahun baru (Nataru).
Dari data Kementerian Perhubungan, diprediksi akan ada mobilitas kurang lebih 40 ribu orang pada libur Nataru.
Maka dari itu BMKG menghimbau warga agar waspada dengan adanya potensi cuaca ekstrim saat bepergian di waktu Nataru.
Dwikorita menyampaikan bahwa cuaca ekstrim yang berpotensi terjadi ini disebabkan karena adanya berbagai fenomena anomali dinamika atmosfer secara bersamaan.
“Ada 4 fenomena yang terjadi secara bersamaan. Mengakibatkan kondisi dinamika atmosfer ini memicu peningkatan curah hujan hingga lebat bahkan dikhawatirkan dapat mencapai ekstrim,” kata Dwikorita, dikutip AyoJakarta.com dari kanal YouTube KOMPASTV, Rabu, 21 Desember 2022.
Fenomena pertama adalah adanya adanya aktivitas Monsun yang meningkat, ini merupakan angin yang bergerak dari arah barat membawa massa udara yang lebih banyak.
Baca Juga: Waspada! 20 Daerah Ini Berpotensi Diguyur Hujan Sedang Hingga Sangat Lebat Sepanjang Nataru
“Yang pertama, peningkatan aktivitas Monsun Asia yang memicu pertumbuhan awan hujan secara signifikan di wilayah Indonesia bagian barat, tengah, dan selatan,” ujar Dwikorita.
Fenomena yang kedua adalah adanya massa udara dingin yang berasal dari daratan Asia sekitar Tibet.
“Yang kedua adalah intensifikasi atau semakin intensifnya fenomena seruakan dingin Asia yang dapat meningkatkan kecepatan angin permukaan di wilayah Indonesia bagian barat dan selatan,” kata Dwikorita.
Fenomena seruakan dingin ini disertai dengan meningkatnya pembentukan awan-awan hujan jadi lebih intensif di sekitar Kalimantan, Sumatera, Jawa, Bali hingga Nusa Tenggara.
Baca Juga: Harga Tiket Pesawat Naik 30 Persen, Ini Syarat Calon Penumpang Pesawat Jelang Nataru
Selanjutnya, fenomena ketiga adalah adanya indikasi peningkatan awan konvektif yang bisa memicu terjadinya cuaca ekstrim dan angin kencang.
“Yang ketiga adalah adanya indikasi pembentukan pusat tekanan rendah di sekitar wilayah perairan selatan Indonesia yang dapat memicu peningkatan pertumbuhan awan konvektif yang yang cukup masif,” kata Dwikorita.
Adanya peningkatan terbentuknya awan konvektif juga disertai dengan terjadinya peningkatan kecepatan angin permukaan serta peningkatan tinggi gelombang sekitarnya.
Fenomena keempat yang bisa menyebabkan cuaca ekstrim adalah adanya Madden Julian Oscillation.
“Yang keempat, terpantaunya gelombang atmosfer jadi ada beberapa aktivitas gelombang atmosfer yaitu fenomena Madden Julian Oscillation yang kurang lebih merupakan fenomena pergerakan arak-arakan awan hujan dari arah Samudra Hindia di sebelah Timur Afrika,” kata Dwikorita.
Baca Juga: Jelang Nataru, Pemerintah Setuju Tiket Pesawat Naik hingga 30 Persen!
Fenomena ini dari arah Samudra Hindia menuju ke Samudera Pasifik tapi melewati kepulauan Indonesia. Kebetulan pergerakan awan tersebut melintasi Indonesia pada saat waktu Natal dan tahun baru.
Dengan adanya 4 fenomena yang terjadi secara bersamaan ini dikhawatirkan akan terjadi cuaca ekstrim di berbagai wilayah Indonesia terutama di bagian selatan sampai tengah dan timur.
Oleh sebab itu BMKG mengimbau warga untuk siaga terhadap terjadinya cuaca ekstrim yang bisa terjadi sewaktu-waktu.***

Share this article
Ketua BMKG yaitu Dwikorita Karnawati menyampaikan adanya potensi cuaca ekstrim pada saat Natal hingga tahun baru (Nataru).