AYOJAKARTA.COM -- Aji Febriyanto selaku pakar komputer forensik Polri menjadi salah satu saksi ahli dalam persidangan pembunuhan Brigadir J.
Saksi ahli tersebut membongkar siapa yang terindikasi berbohong dalam kasus kematian Brigadir J.
Mulai dari pasangan Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi, hingga para ajudannya juga telah melewati uji atau tes poligraf.
- Baca Juga: Sambil Menahan Tangis, Ferdy Sambo Minta Pertanggungjawaban Richard Eliezer Setelah Lakukan Hal Ini
- Baca Juga: Begini Cara Kerja Lie Detector atau Tes Poligraf di Kasus Ferdy Sambo Dkk, Keakuratan 93 Persen
- Baca Juga: Terkuak! Putri Candrawathi Ngaku Dipaksa Ferdy Sambo Lakukan Hal Ini, Apakah Itu?
Di depan hakim, Aji mengungkapkan, hasil skor Bharada E adalah +13, Ferdy Sambo -8 dan Putri Candrawathi -25, demikian diberitakan Suara.com.
"Skor plus berarti terindikasi jujur, sementara skor minus terindikasi bohong," ungkap Aji saat dihadirkan sebagai ahli dalam sidang pembunuhan Brigadir J di PN Jakarta Selatan, Rabu, 14 Desember 2022.
Aji menuturkan, dalam proses penyidikan, dirinya memeriksa Ferdy Sambo, Putri Candrawathi, Bharada Richard Eliezer, Bripka Ricky Rizal, dan Kuat Maruf. Kemudian Aji mengatakan, skor dari kelimanya bermacam-macam dan tidaklah sama.
- Baca Juga: Kembali Sudutkan Richard Eliezer, Ferdy Sambo: Kuat, Ricky, dan Istri Saya Jangan Kau Libatkan!
- Baca Juga: Tak Disangka Kuat Maruf Justru Lakukan Hal Ini Saat Dipertemukan dengan Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi
"Untuk Ferdy Sambo nilainya -8, kalau terdakwa Putri Candrawathi nilainya -25. Kemudian Untuk Kuat dilakukan dua kali pemeriksaan, yang pertama +9, yang kedua adalah -13," paparnya.
Aji menyebut Bripka Ricky Rizal dilakukan tes sebanyak dua kali. Hasil pertama dengan skor +11 dan kedua +19. Untuk hasil tes Bharada E, mendapat nilai +13.
Menurut Aji, alat uji kebohongan atau poligraf memiliki tingkat akurasi lebih dari 93 persen. Tes poligraf adalah aktivitas pemeriksaan dengan menggunakan alat poligraf untuk menentukan seseorang itu apakah teridentifikasi bohong atau jujur.
"Untuk teknik yang kami gunakan, yaitu Tahiat City memiliki keakuratan di atas 93 persen," kata Aji.
Terkait proses mekanisme pengambilan keterangan terhadap Ferdy Sambo Cs, Aji menegaskan dirinya menggunakan alat tes kebohongan atau alat poligraf.
"Pemeriksaan poligraf dimulai dari permintaan penyidik, setelah ada permintaan dari penyidik kami selaku pemeriksa poligraf berkoordinasi dengan penyidik berkaitan isu yang kami akan dalam proses pemeriksaan," jelasnya.
Setelah itu pihaknya mempelajari konstruksi kasusnya seperti apa, kemudian menentukan waktu setelah itu baru dilakukan pemeriksaan. Kata Aji, terdapat tiga tahapan pemeriksaan.
"Pertama, tahapan prites, tahapan prites ini tahapan di mana seorang pemeriksa menjelaskan mekanisme pemeriksaan poligraf, di dalamnya ada berkaitan riwayat kesehatan, riwayat sosial, lalu menyamakan persepsi berkaitan kronologi kejadian," paparnya.
Tahapan kedua yakni tahapan tes. Tahapan ini, kata Aji, dimulai dengan ditandainya seorang terperiksa dipasang alat-alat berupa sensor, seperti sensor poligraf. Terdapat empat sensor poligraf, yaitu sensor pernapasan dada, sensor pernapasan perut, sensor elektrodermal, dan sensor kardiofaskuler.
"Lalu setelah terperiksa diberikan, dipasang alat-alat kemudian diberikan pertanyaan-pertanyaan sesuai dengan metode yang kami gunakan," tuturnya.
Tahapan ketiga yakni, tahapan postes. Aji menjelaskan, tahapan tersebut untuk menganalisa grafik, di mana dalam menganalisa grafik ini pihaknya tidak bekerja sendiri. Pihaknya bekerja secara tim untuk menentukan apakah terperiksa ini terindikasi berbohong atau jujur.*** (Suara.com)

Share this article
Mulai dari pasangan Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi, hingga para ajudannya juga telah melewati uji atau tes poligraf.