AYOJAKARTA.COM - Tragedi Kanjuruhan yang menewaskan 132 orang menjadi peristiwa yang sangat mengenaskan dalam dunia sepak bola.
Hingga saat ini masih banyak korban yang dirawat secara intensif di rumah sakit.
Selasa (18/10/22) korban atas nama Andi Setiawan yang menjalani perawatan intensif di RSUD Saiful Anwar tidak dapat tertolong.
Dikutip AyoJakarta.com dari Twitter AremaFC pada Selasa (18/10/2022), korban telah berjuang di rumah sakit selama 17 hari sejak tragedi Kanjuruhan terjadi.
Total kematian korban akibat Tragedi Kanjuruhan bertambah menjadi 133 orang.
Baca Juga: Jokowi: Stadion Kanjuruhan Bakal Dirobohkan, FIFA Ikut Turun Tangan
Sebelumnya, salah satu korban perempuan Tragedi Kanjuruhan juga tidak dapat tertolong setelah dirawat intensif di rumah sakit.
Tragedi Kanjuruhan semula berawal dari pertandingan sepak bola antara Arema FC melawan Persebaya Surabaya.
Saat itu Arema menjadi tim tuan rumah di Stadion Kanjuruhan.
Pertandingan derby Jawa Timur itu hanya boleh ditonton oleh penonton Arema saja.
Pertandingan berjalan lancar hingga pluit wasit dibunyikan.
Saat itu tuan rumah harus mengakui keunggulan tim tamu dengan skor 2-3.
Ini merupakan kali pertama Arema kalah di kandang saat melawan Surabaya sejak 23 tahun lalu.
Namun 90 menit waktu berakhir, ada beberapa penonton Arema yang nekat untuk turun ke dalam lapangan.
Baca Juga: Andi Setiawan, Korban Baru yang Meninggal Dunia di Tragedi Kanjuruhan
Mereka menyemangati para pemain yang terlihat kecewa karena harus kalah di hadapan publik sendiri.
Hingga akhirnya banyak Aremania yang ikut turun dari tribun ke arah lapangan.
Polisi yang berjaga pun mengambil sikap untuk menembakkan gas air mata ke arah tribun.
Penembakan gas air mata ini menyebabkan beberapa orang sesak napas dan pandangannya kabur.
Tidak sedikit juga yang mengalami mata merah.
Tragedi yang menewaskan ratusan orang tersebut ditanggapi santai oleh Polisi Indonesia.
Mereka mengklaim bahwa tembakan gas air mata yang ditembakkan oleh polisi merupakan jalan yang dipakai untuk membubarkan massa, walaupun mereka melanggar peraturan yang telah ditetapkan oleh FIFA.
Polisi juga mengklaim bahwa tembakan gas air mata tidak berbahaya dan tidak menyebabkan orang meninggal.
Jatuhnya banyak korban atas tragedi Kanjuruhan disebabkan oleh penonton yang berlarian karena panik dan membuat kerumunan di pintu keluar.
Padahal saat itu gas air mata yang digunakan polisi untuk menembaki penonton di tribun sudah kedaluwarsa.
Sehingga hal tersebut bisa menyebabkan beberapa hal serius dalam diri manusia.***

Share this article
Breaking news, korban Tragedi Kanjuruhan Malang kembali bertambah, total menjadi 133 orang. Simak infonya di sini!