AYOJAKARTA.COM - Pada tanggal 26 Agustus, gempa berkekuatan M5,8 mengguncang wilayah selatan Gunung Kidul, Yogyakarta.
Gempa ini dirasakan cukup kuat oleh warga setempat sehingga menimbulkan kepanikan meskipun belum ada laporan kerusakan signifikan maupun korban jiwa.
Gempa tersebut terjadi di zona megathrust, area yang menjadi titik pertemuan lempeng Indo-Australia dengan lempeng Eurasia sepanjang zona subduksi selatan Jawa.
Indonesia memiliki beberapa zona megathrust yang aktif, sehingga menjadi salah satu wilayah dengan risiko gempa bumi dan tsunami yang tinggi.
Megathrust menjadi perhatian utama karena potensi pelepasan tekanan yang dapat menghasilkan gempa besar dan berpotensi memicu tsunami.
"Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalamannya, gempa selatan Gn. Kidul M5,5 merupakan jenis gempa dangkal akibat deformasi batuan di bidang kontak antar lempeng (megathrust)," ungkap Daryono, Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG (26/08/2024).
Pernyataan ini dikutip oleh Ayojakarta.com dari akun resmi Daryono, Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG pada Selasa, 27 Agustus 2024.
Ia menegaskan bahwa gempa tersebut terjadi akibat interaksi di zona kritis antara dua lempeng tektonik.
BMKG terus memantau aktivitas seismik di wilayah ini dan mengimbau masyarakat untuk tetap waspada.
Peristiwa ini mengingatkan kita akan potensi bencana yang dapat terjadi kapan saja, terutama di wilayah yang berada di sepanjang jalur megathrust.
Sebagai langkah mitigasi, masyarakat diharapkan selalu siap dengan rencana evakuasi dan mematuhi protokol tanggap darurat.
Kesiapsiagaan dan edukasi mengenai megathrust dan potensi dampaknya perlu ditingkatkan untuk meminimalisir risiko di masa mendatang.***

Share this article
Pihak BMKG menegaskan bahwa gempa tersebut terjadi akibat interaksi di zona kritis antara dua lempeng tektonik.