AYOJAKARTA.COM – Siatuasi politik nasional jelang perhelatan Pilgub Jakarta dikejutkan dengan pengunduran diri Ketua Umum Golkar, Airlangga Hartarto.
Keputusan Airlangga Hartarto sebagai Ketum Golkar sebelumnya sempat menjadi sorotan usai mengusung Ridwan Kamil di Pilgub Jakarta.
Tanpa indikasi yang dapat terbaca publik, mundurnya Airlangga Hartarto sebagai Ketum Golkar menjelang Pilgub Jakarta disebut kurang irasional dan di luar jangkauan nalar.
Pernyataan tersebut disampaikan Ray Rangkuti yang juga merupakan Direktur Eksekutif Lingkar Madani.
Melalui keterangan kepada media, Ray menganggap mundurnya Airlangga jelang Pilgub Jakarta sebagai fenomena politik yang sangat menarik.
Dukungan dari Golkar terhadap Dedi Mulyadi yang merupakan kader Gerindra, menurut Ray bisa menjadi variabel pertama.
Selain karena menarik Ridwan Kamil dari Pilgub Jawa Barat dengan peluang menang lebih besar dibandingkan Jakarta, masih ada variabel lain yang sukar untuk dinalar.
Figur Airlangga Hartarto menurut Ray merupakan tokoh yang terbilang sukses dalam memimpin Golkar.
Buah dari kesuksesan tersebut dapat dilihat dari peningkatan jumlah kursi di parlemen serta kemenangan dalam kontestasi Pemilihan Presiden Februari lalu.
“Tidak ada huru-hara, tidak ada pelanggaran hukum, Pak Airlangga dalam kondisi yang sukses membawa Golkar menaikan suara,” ungkap Ray Rangkuti dikutip ayojakarta.com dari YouTube Metro TV, Senin (12/8/2024).
Berdasar pada ketiga variabel tersebut, Ray menduga mundurnya Airlangga dari kursi kepemimpinan puncak di Partai Golkar lebih disebabkan kondisi irasional.
Terkait alasan yang dapat disebut sebagai penjelasan irasional, Ray memberikan sejumlah penjelasan.
“Misalnya capek, beliau ingin konsentrasi pada bidang tertentu atau yang ketiga sedang dihantui oleh persoalan hukum,” imbuh Ray.
Namun demikian, Ray tak dapat memastikan penyebab utama yang membuat Airlangga Hartarto secara tiba-tiba melepas jabatannya.
Mundurnya Airlangga dari jabatan Ketua Umum Golkar menurut Ray jelas mengundang pertanyaan terlebih karena proses mendudukinya tidaklah mudah.
Sehubungan dengan substansi pidato pengunduran diri yang disampaikan pada 11 Agustus 2024, Ray memberikan penafsiran.
Menurut Ray, esensi pidato yang disampaikan Airlangga sebelum mengundurkan diri justru mencerminkan atmosfer hati terhadap politik yang berkebalikan.
Muatan pidato Airlangga yang banyak memaparkan kesuksesan sebagai ketua umum, menurut Ray memiliki isyarat tersendiri.
Pernyataan pidato Airlangga tentang kesuksesan selama menjabat, keberhasilan di tingkat legislatif dan eksekutif, menurut Ray kalimat itu menyimpan muatan harapan.
“Itu bukan pidato untuk mundur, tapi mempertahankan jabatan, pertanyaannya pidato itu ditujukan untuk siapa?”, pungkas Ray.***

Share this article
Pengamat sebut keputusan Airlangga Hartarto mundur sebagai Ketum Golkar jelang Pilgub Jakarta di luar nalar.