AYOJAKARTA.COM -- Tim pemenangan pasangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar dengan semangat mengadakan kampanye tatap muka yang meriah di Kota Tasikmalaya pada Sabtu, 23 Desember 2023.
Acara kampanye yang dihadiri oleh puluhan tokoh masyarakat ini menjadi momentum penting bagi tim pasangan calon nomor urut satu tersebut untuk memperkuat jejaknya di wilayah Jawa Barat.
Dalam rangka kampanye tersebut, tim pemenangan yang dipimpin oleh Ketua Haru Suandharu mengemukakan ambisi besar, yakni meraih kemenangan dengan perolehan suara mencapai 80 persen di Jawa Barat.
Suandharu menjelaskan bahwa target yang ditetapkan tersebut bukanlah sesuatu yang mustahil untuk diwujudkan.
Pihaknya optimistis karena pasangan Anies-Muhaimin memiliki basis kuat di banyak daerah di Jawa Barat, yang dianggap sebagai lumbung suara yang potensial.
Melalui kampanye tatap muka ini, tim pemenangan berusaha membangun konektivitas langsung dengan warga, menciptakan momentum positif, dan meyakinkan masyarakat akan visi serta program pasangan Anies-Muhaimin.
Dengan demikian, harapan mereka untuk mencapai target kemenangan sebesar 80 persen suara di Jawa Barat semakin terbuka lebar.
"Dari 60 persen ke 80 persen itu tidak jauh. Itu bisa dicapai. Tidak ada yang mustahil," ucap Haru di Kota Tasikmalaya, dikutip Ayojakarta.com dari Republika, pada Selasa, 26 Desember 2023.
Persentase kemenangan sebesar 60 persen di Jawa Barat yang disebutkan oleh Haru Suandharu merujuk pada pencapaian suara pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dalam pemilihan presiden tahun 2019 di provinsi tersebut.
Pada saat itu, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) turut serta dalam mengusung pasangan Prabowo-Sandiaga. Dengan melibatkan konteks tersebut, Haru Suandharu menilai bahwa meningkatkan perolehan suara dari 60 persen menjadi ambisius target 80 persen untuk pasangan Anies-Muhaimin bukanlah sesuatu yang dianggap mustahil.
Analisisnya didasarkan pada keyakinan bahwa pada pemilu sebelumnya, pasangan Prabowo-Sandiaga mampu mendapatkan dukungan yang signifikan dari masyarakat Jawa Barat, yang pada saat itu menjadi lumbung suara bagi pasangan tersebut.
Dengan berpindahnya dukungan PKS ke pasangan Anies-Muhaimin, Suandharu meyakini bahwa basis massa yang solid dapat menjadi kekuatan penunjang untuk mencapai target ambisius tersebut.
Dengan mempertimbangkan pergeseran dinamika politik dan perubahan basis dukungan, Haru Suandharu optimistis bahwa meningkatkan perolehan suara dari 60 persen ke 80 persen bagi pasangan Anies-Muhaimin adalah sebuah sasaran yang dapat direalisasikan.
Hal ini tentu menjadi tantangan bagi tim pemenangan, namun sekaligus menjadi motivasi untuk terus berupaya memperluas dan memperkuat dukungan di tengah kompleksitas politik Jawa Barat.
"Kami akan kerja keras agar target tercapai dan mengamankan suara Pak Anies untuk pemilu 2024," ucapnya.
Demi mencapai target ambisius tersebut, tim pemenangan berfokus pada pelaksanaan kampanye di daerah yang sebelumnya menjadi basis suara utama untuk pasangan Prabowo pada pemilihan presiden tahun 2019.
Dengan keyakinan bahwa warga yang pada saat itu memilih Prabowo akan memberikan dukungan serupa kepada Anies pada pemilu 2024, strategi ini dianggap krusial untuk memperoleh hasil yang diinginkan.
Baca Juga: KPU Jember Pastikan 5 'Tuhan' akan Ikut Mencoblos di Pilpres 2024
Di wilayah Priangan Timur, Haru Suandharu menyampaikan bahwa para relawan telah berkomitmen untuk mengumpulkan sekitar 5 juta suara untuk mendukung pasangan Anies-Muhaimin.
Ia percaya bahwa melalui upaya ini, pasangan calon nomor urut satu memiliki peluang besar untuk meraih kemenangan di Jawa Barat, mengingat potensi dukungan yang kuat di wilayah tersebut.
Selain menjadi perwujudan dari komitmen relawan, langkah ini juga mencerminkan keyakinan bahwa dengan dukungan yang massif, pasangan Anies-Muhaimin dapat memenangkan hati pemilih dan meraih sukses pada pemilu mendatang.
"Kami juga sampaikan bahwa kita perlu kerja keras untuk terus sosialisasi," ucapnya.

Share this article
Tim pasangan Anies-Muhaimin optimis memiliki basis kuat di banyak daerah di Jawa Barat, yang dianggap sebagai lumbung suara yang potensial.