AYOJAKARTA.COM - BMKG atau Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meminta Pemkab Cianjur untuk segera merelokasi sembilan desa yang dilewati jalur Sesar Cugenang.
BMKG juga mengimbau kepada Pemkab Cianjur jika sembilan desa tersebut dapat dijadikan kawasan dengan konsep ruang terbuka tanpa bangunan.
Seperti dikutip AyoJakarta.com pada siaran Pers BMKG di laman bmkg.go.id pada Senin 12 Desember 2022, Dwikorita selaku Kepala BMKG menjelaskan dampak serta imbauannya perihal Sesar Cugenang.
Baca Juga: Waspada! Terdapat 6 Sesar Aktif Sepanjang Pulau Jawa, Membentang Mulai Jawa Barat Hingga Jawa Timur
Dwikorita menyebut, karena jalur patahannya ada di wilayah Cugenang maka dinamakan Sesar Cugenang.
Sebelumnya, kata dia, gempa Cianjur diduga disebabkan aktivitas Sesar Cimandiri karena pusat gempa berada di dekat sesar tersebut.
Namun kemudian dilakukan analisis focal mechanism dan sebaran titik gempa-gempa susulan, analisis citra satelit dan foto udara, serta survei lapangan secara detail oleh BMKG.
Penelitian tersebut dilakukan terhadap pola sebaran dan karakteristik surface rupture (retakan/rekahan permukaan tanah), sebaran titik longsor, kelurusan morfologi, dan pola sebaran kerusakan bangunan.
Sehingga dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa gempa Cianjur disebabkan oleh sesar baru yaitu Sesar Cugenang.
Selanjutnya Dwikorita menjelaskan bahwa sesar Cugenang membentang sepanjang kurang lebih 9 kilometer dan melintasi sedikitnya sembilan desa.
Sembilan desa tersebut adalah delapan di antaranya termasuk Kecamatan Cugenang.
Kedelapan desa itu ialah Desa Ciherang, Desa Ciputri, Cibeureum, Nyalindung, Mangunkerta, Sarampad, Cibulakan, dan Desa Benjot.
Satu desa terakhir, Nagrak, lokasinya di dalam wilayah Kecamatan Cianjur.
Baca Juga: Waduh! Daftar 9 Desa Harus Kosong Akibat Sesar Cugenang Aktif! Update Kasus Gempa Cianjur di Sini!
Kemudian pihak BMKG mendorong Pemkab Cianjur untuk segera merelokasi sembilan desa tersebut agar segera relokasi dan dikosongkan.
"Karena Sesar Cugenang adalah sesar aktif, maka rentan kembali mengalami pergeseran atau deformasi, getaran dan kerusakan lahan, serta bangunan. Area sepanjang patahan harus dikosongkan dari peruntukkan sebagai permukiman, sehingga jika terjadi gempabumi kembali di titik yang sama, tidak ada korban jiwa maupun kerugian materil," imbuhnya.
Dwikorita mengimbau jangan sampai ada bangunan, rumah warga, maupun fasilitas umum yang berdiri di atas jalur sesar Cugenang tersebut karena masuk dalam zona merah bahaya.
Baca Juga: Jakarta Waspada! Sesar Baribis Aktif, Hasil Microearthquake: 46 Gempa Terjadi Selama 60 Hari
Menurutnya, area yang berada di jalur Sesar Cugenang tetap bisa dimanfaatkan untuk keperluan pertanian, kawasan konservasi, lahan resapan.
Bahkan dapat dikembangkan menjadi destinasi wisata dengan konsep ruang terbuka tanpa bangunan permanen.
"Poin utamanya, area lintasan Sesar Cugenang terlarang untuk bangunan tempat tinggal maupun bangunan permanen lainnya," ungkap Dwikorita.***

Share this article
Berikut ini sembilan desa yang berada di atas jalur Sesar Cugenang yang diimbau untuk dijadikan kawasan terbuka tanpa bangunan oleh BMKG.