AYOJAKARTA.COM — Ke mana AHY akan berlabuh usai namannya "ditendang" Partai Nasional Demokrat untuk mendampingi Anies Baswedan dalam Pilpres 2024?
Pertanyaan ke mana AHY akan berlabuh menjadi topik hangat dalam pergerakan dunia politik yang dinamis.
Ke mana AHY akan berlabuh bisa menjadi peluang bagi koalisi parpol peserta pilpres 2024 untuk memperkuat posisinya masing-masing. Namun mana yang paling tepat bagi AHY?
Pekan lalu secara mengejutkan calon presiden (capres) Anies Baswedan mengumumkan menggandeng Muhaimin Iskandar atau Cak Imin untuk menjadi calon wakil presidennya.
Baca Juga: Peluang AHY Mendampingi Anies Baswedan Hilang, Susilo Bambang Yudhoyono: Ada Campur Tangan Dalang!
Cak Imin adalah Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang sebelumnya bergabung dengan koalisi Indonesia Maju pimpinan Prabowo Subianto.
Pengumuman ini terbilang mengejutkan. Pasalnya Anies yang memimpin Koalisi Perubahan dan Persatuan diperkirakan dan digadang-gadang akan menggandeng Ketum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai wakilnya.
Pengumuman pekan lalu itu disambut murka oleh pendukung AHY. Mereka mencap Anies sebagai pengkhianat dan pengecut. Demokrat pun hengkan dari Koalisi Perubahan.
Pentolan Demokrat, Andi Arief, dalam cuitan di akun X (Twitter) pada Kamis, 31 Agustus 2023 menulis, "Saya tidak menyangka @aniesbaswedan berdarah dingin tapi pengecut."
Baca Juga: Dipilih Jadi Cawapres Anies Baswedan Segini Harta Kekayaan Cak Imin, Lebih Besar Mana dengan AHY?
Sementara sejumlah anggota Partai Demokrat di sejumlah daerah menyatakan akan mencabut baliho dan poster yang memasang foto AHY dan Anies.
Dengan kondisi tersebut, AHY dengan kendaraan Demokrat-nya memerlukan koalisi lain untuk bisa mengikuti pemilihan presiden 2024.
Sebagai informasi, Presidential Threshold Demokrat hanya sebesar 9,39% persen, jauh dari yang diamanatkan Undang-Undang Pemilu sebesar 20 persen.
Untuk bergabung koalisi, saat ini pilihannya hanya ada dua. Bergabung dengan capres Ganjar atau Prabowo. Mana yang paling memungkinkan bagi dia untuk menjadi cawapres. Terlebih Ganjar dan Prabowo belum memutuskan siapa wakilnya?
Ke Kubu Ganjar, Berhadapan dengan Megawati
Dari kedua capres tersebut, hanya Ganjar Pranowo yang diusung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang tidak memerlukan koalisi. Perolehan kursi DPR hasil dari Pileg 2019 lalu, PDIP meraih 22,6% dari 575 kursi DPR.
Dengan kondisi politik yang dinamis, beberapa tokoh yang disebut-sebut dapat mendampingi Ganjar antara lain Sandiaga Uno, AHY, Ridwan Kamiil, dan Erick Thohir.
Tapi kesempatan AHY untuk mendampingi Ganjar terbilang berat karena riwayat "permusuhan" kedua ketua umumnya. Antara Megawati dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Dalam suatu kesempatan yang ditayangkan di televisi, Megawati bahkan enggan bersalaman dengan AHY.
Meski demikian, di kesempatan lainnya, putri Megawati, Puan Maharani, memiliki relasi yang lebih akrab dengan AHY. Ini bisa menjadi indikasi, jika PDIP masih terbuka untuk menerima Partai Demokrat dalam gerbongnya.
Baca Juga: Bentuk Dukungan Annisa Pohan untuk AHY Usai Dikhianati Anies Baswedan: Aku Akan...
Ke Kubu Prabowo, Pengalaman Buruk
Begitu juga dengan Koalisi Indonesia Maju yang dipimpin oleh Partai Gerindra tidak menutup pintu bagi Partai Demokrat.
Sejumlah petinggi Gerindra seperti Dasco Ahmad dan Fadli Zon satu suara menyatakan akan menerima siapapun yang mendukung Prabowo.
Meski pintu terbuka, namun berat bagi AHY untuk bisa menjadi pendamping Prabowo. Berdasarkan hasil sejumlah survei, AHY disebut bukan sosok paling tepat bagi Prabowo.
Nama Erick Thohir malah disebut paling pantas untuk mendampingi Prabowo.
Menurut hasil survei Lembaga Survei Indonesia (LSI), Erick Thohir mendapatkan angka elektabilitas tertinggi sebesar 15,9 persen. Sementara di posisi kedua diisi oleh AHY dengan perolehan angka elektabilitas sebesar 12,1 persen. Menyusul di tempat ketiga, nama Mahfud MD dengan elektabilitas sebesar 9,9 persen.
Peristiwa politis jelang pendaftaran capres dan cawapres pada pilpres 2019 pun menjadi catatan lainnya bagi AHY.
Jelang detik-detik pendaftaran, Ketum Gerindra Prabowo tidak memilih menggandeng AHY. Sebaliknya, Prabowo memilih untuk bermitra dengan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Salahuddin Uno, sebagai Calon Wakil Presiden dalam Pemilu 2019.
Dengan melihat kondisi terkini, AHY diperkirakan akan menghadapi jalan terjal untuk merengkuh posisi calon wakil presiden.***

Share this article
Ke mana AHY akan berlabuh usai namannya "ditendang" Partai Nasional Demokrat untuk mendampingi Anies Baswedan dalam Pilpres 2024.