AYOJAKARTA.COM - Jessica Wongso, terdakwa kasus pembunuhan kopi sianida yang menyebabkan Wayan Mirna Salihin meninggal pada 2016 silam masih terus menjadi sorotan publik.
Berbagai reaksi datang dari berbagai pihak, termasuk saksi ahli Edward Omar Sharif Hiariej atau Prof Eddy Hiariej angkat bicara.
Dinukil ayojakarta.com dari podcast Close The Doors di YouTube Deddy Corbuzier pada Sabtu, 14 Oktober 2023, Prof Eddy blak-blakan membeberkan kala itu tentang proses penyelidikan terhadap Jessica Wongso sebagai terdakwa pembunuhan Wayan Mirna Salihin.
Prof Eddy menjadi salah satu saksi ahli dalam kasus tersebut yang memberatkan Jessica Wongso kala itu.
Dalam podcast tersebut, Prof Eddy menyampaikan hasil profiling Jessica Wongso yang akhirnya membuat Jaksa Penuntut Umum meyakini jika terdakwa adalah pelaku.
Dikatakan Prof Eddy, Jessica pernah terlibat kasus kriminal di Australia sebanyak 14 kali.
fakta itu diperoleh dari kesaksian anggota kepolisian negara New South Wales, Australia, John Torres.
Baca Juga: Buntut Film Ice Cold, Otto Hasibuan Akan Ajukan PK Kasus Jessica Wongso
Kemudian, Prof Eddy juga menyebutkan kondisi Jessica Wongso yang memiliki kecenderungan untuk bunuh diri.
Dari kasus-kasus yang dilaporkan di Australia, Jessica Wongso sering memberikan ancaman untuk melakukan bunuh diri.
Jessica Wongso pernah melakukan percobaan bunuh diri sampai empat kali menggunakan racun.
Tak hanya itu, Jessica Wongso juga mengancam akan membunuh bosnya ketika masih di Australia.
Di mana, ancaman yang Jessica sebutkan itu disampaikannya kepada Kristie, temannya di Australia.
"Dia (Jessica) bilang, 'Saya tahu itu cara yang tepat untuk membunuh dan sebagainya.' Karena itu tadi, berdasarkan digital forensik, dia memang sudah men-search bagaimana sianida itu dan dia sudah menonton film, jadi dia sudah paham sebetulnya," ungkap Prof Eddy.
Prof Eddy kala itu juga menemukan rasa ingin tahu yang cukup tinggi dari Jessica Wongso tentang sianida.
Hal itu diketahui dari hasil digital forensik yang ditemui pada laptop Jessica Wongso yang telah disita.
Dalam laptop tersebut penelusuran riwayat pencarian ditemukan tentang sianida, dan film yang sempat ditonton oleh Jessica Wongso.
"Tahun 2015, dia menonton film The Hateful Eight. Film itu menceritakan tentang 8 koboi, di mana satu koboi, membunuh tujuh temannya dengan menggunakan sianida yang dimasukkan ke dalam kopi. Itu sempat di-profiling," kata Prof Eddy.
Selanjutnya, Prof Eddy juga menyampaikan perilaku Jessica ketika bertemu Profesor Ronny ahli fisiognomi (pembaca gestur).
Kondisinya kala itu, Jessica Wongso yang sebelumnya tenang tiba-tiba menangis.
"Selama persidangan, Jessica itu tenang, dia senyum-senyum. Tapi perhatikan, coba lihat baik-baik, ketika Profesor Ronny Nitibaskara memberikan kesaksian, Jessica kan nangis, dan itu sempat diprotes oleh kuasa hukum," jelas Prf Eddy.
Baca Juga: Jadi Tersangka Kasus Korupsi di Kementan, SYL Minta Publik Tak Menghakimi
Terkait Jessica Wongso yang tidak lolos lie detector, Prof Eddy menjelaskan, hal itu karena Jessica memiliki skala psikologis manusia di level yang tinggi.
Hal itu diketahui dari keterangan Profesor Ronny Nitibaskara dan dokter Nathalie selaku psikiater.
Dimana, skala psikologis manusia yang berada di level 1 sampai 20.
Sementara, Jessica Wongso memiliki skala di angka 19 sekian.
"Jessica ini berada di skala 19 atau berapa ya, hampir mendekati sempurna. Ini yang kemudian disimpulkan oleh profesor Ronny, bahwa orang seperti ini, dideteksi dengan lie detector secanggih apapun, tidak akan terbukti," ucap Prof Eddy.

Share this article
Prof Eddy menyampaikan hasil profiling Jessica Wongso yang akhirnya membuat Jaksa Penuntut Umum meyakini jika terdakwa adalah pelaku.