AYOJAKARTA.COM -- Gunung Tampomas merupakan gunung api tertinggi yang berada di Sumedang, Jawa Barat. Rangkaian pembentukan gunung api ini dikontrol oleh aktivitas tumbukan dua lempeng aktivitas dua lempeng yang posisinya berada di selatan Pulau Jawa.
Berdasarkan hasil studi yang dilakukan Laboratorium Geologi Lingkungan Universitas Padjadjaran oleh Lucky Lukmantara Ir., saat ini puncak Gunung Tampomas terlihat gundul dan tandus. Hal ini diakibatkan tidak ada vegetasi karena batuan yang tersingkap sangat keras dan segar.
Kecilnya pelapukan di bagian puncak disebabkan pengaruh iklim setempat disamping faktor litologinya sendiri yang resisten terhadap pelapukan. Stratigrafi dan litologi gunung ini terdiri dari perselingan lava, breksi, tuf dan breksi lahar.
Endapan piroklastik berupa breksi vulkanik dan breksi lahar umumnya terlifikasi dengan baik. Sehingga endapan gunung api relatif tidak stabil terhadap goncangan dan kondisi ini berpotensi menimbulkan longsor.
Jika endapan batuan membentuk morfologi dengan kemiringan lereng sedang hingga tinggi, kemungkinan besar akan terjadi longsor besar apabila dipicu adanya gempa atau aktivitas manusia. Longsor dapat terjadi karena beberapa faktor seperti kemiringan lereng, sifat fisik batuan atau tanah, curah hujan, intensitas kekar dan sesar.
Kemiringan lereng Gunung Tampomas berdasarkan klasifikasi van Zuidam (1983) terbagi menjadi dalam 3 kelas yaitu sebagai berikut.
- Kelas 1, meliputi daerah bermorfologi perbukitan bergelombang dengan kemiringan lereng berkisar 24-35 persen atau dengan beda tinggi 50-200 meter. Daerah ini menempati lereng bagian bawah Gunung Tampomas dan terletak pada elevasi antara 300-700 meter di atas permukaan laut.
- Kelas 2, mencakup daerah bermorfologi pegunungan atau perbukitan sangat curam, menempati elevasi berkisar antara 700-1000 meter. Sudut kemiringan lereng daerah ini berkisar antara 35-90 persen.
- Kelas 3, mencakup daerah bermorfologi perbukitan tersayat tajam atau berbukit sangat terjal menempati elevasi antara 700-1000 meter di atas permukaan laut. Daerah ini mempunyai sudut lereng 90-150 persen.
Mengacu pada parameter kemiringan lereng, semua daerah tersebut rawan longsor karena kemiringan lereng yang cukup besar dan curam. Daerah yang termasuk aman adalah daerah dengan kemiringan lereng kecil atau kemiringan lereng besar akan tetapi disusun oleh batuan beku atau batuannya disusun oleh breksi vulkanik yang masih segar.
Berdasarkan topografinya, yang termasuk zona bahaya longsor dilihat hanya pada faktor kemiringan saja adalah kelas 1 dan 2 karena mempunyai kemiringan lereng yang besar hingga terjal. Sementara wilayah kelas 3 memiliki kemiringan lereng yang rendah hingga sedang, jika ditinjau dari aspek kemiringan termasuk kategori aman.
Kemudian berdasarkan faktor sifat fisik batuannya, daerah yang berada di zona kelas 1 termasuk paling aman dibandingkan daerah pada kelas 1 dan 2. Pada kelas 1 terdiri atas batuan beku lava yang sangat keras dan breksi vulkanik yang masih segar.
Tingkat pelapukan batuan di kelas 1 sangat kecil sehingga batuan yang tersingkap masih segar. Berbeda dengan zona 2 dan 3 yang lebih variatif seperti terdiri atas lava, breksi vulkanik, aglomerat, pasir tufan, lapili, dan bom.
Selain itu, longsor juga bisa terjadi karena aktivitas manusia seperti penggalian pasir. Penggalian pasir gunung yang berasal dari endapan lahar cukup rentan terhadap bahaya longsor.
Baca Juga: Izin Kampanye Sering Dicabut Sepihak, Anies-Muhaimin Bikin Pengguna TikTok dan X Terbelalak
Tebing terjal yang terbentuk karena pertambangan bisa mengurangi kestabilan lereng hingga masa berat dari batuan itu sendiri yang potensial untuk bergerak. Lokasi pertambangan pasir berada di zona 2 bagian bawah, merupakan daerah strategis tempat penyimpanan air tanah.
Selain itu, kawasan zona 2 dan 3 tidak direkomendasikan untuk lahan pertanian karena memerlukan jumlah air yang besar. Jika terjadi maka akan menambah masa berat sehingga daya tahan batuan akan berkurang dan memicu longsor.***

Share this article
Saat ini puncak Gunung Tampomas terlihat gundul dan tandus. Hal ini diakibatkan tidak ada vegetasi karena batuan yang tersingkap.