AYOJAKARTA.COM – Saat ini, masyarakat Indonesia tengah menyaksikan sebuah situasi yang tidak menggembirakan dalam proses demokrasi di negeri ini.
Proses pemilihan umum diwarnai dengan tindakan-tindakan yang merendahkan, mengancam, dan menciptakan ketakutan.
Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla atau yang akrab disapa JK, ketika ia menghadiri kampanye calon pasangan nomor urut 01, Anies Baswedan, di Sulawesi Selatan, terjadi tekanan terhadap Bupati Barru, Suardi Saleh.
Bupati tersebut dihalangi untuk menghadiri acara yang sama dengan dirinya.
"Katanya Bupati Barru itu juga mendapat tekanan sedikit, walaupun dari NasDem. Ini yang menarik, Pak JK, karena beliau dari NasDem toh mereka masih bisa menekan. Dilarang hadir. Wah, dilarang hadir. Saya lagi berpikir nih, Pak JK, jangan-jangan sekarang situasi seperti sekarang ini para tokoh-tokoh atau mungkin menteri dan pejabat negara yang ingin ketemu Pak JK itu jadi ketakutan," tanya Abraham Samad ke Jusuf Kalla dalam kanal YouTube Abraham Samad SPEAK UP.
“Oleh karena itu apa yang sedang terjadi ini? Jadi saya takutnya orang akan jadi syirik, musyrik, Pak JK, nanti lebih takut kepada Pak Jokowi,” lanjutnya.
Jusuf Kalla memberikan pandangannya terkait situasi politik saat ini, yang dianggapnya sangat tidak baik.
Proses demokrasi diwarnai dengan tekanan, ancaman, dan intimidasi. Politik uang juga menjadi masalah yang masif, yang menciptakan kondisi yang berbahaya bagi keberlangsungan bangsa.
Baca Juga: Sikap Presiden Jokowi Dinilai Berubah, Jusuf Kalla: Saya Menyesal Mengusulkan Jokowi ke Megawati
"Sekarang ini, situasi sangat tidak baik atau buruk, gitu kan. Di mana proses demokrasi untuk pemilu ini dibarengi dengan cara mendekan, mengancam, menakutkan,” ucap Jusuf Kalla.
“Di samping, dibarengi pula dengan politik uang yang luar biasa. Masif luar biasa. Inilah proses yang sangat berbahaya untuk satu bangsa, termasuk apalagi kita yang basah yang besarnya,” lanjutnya.
Jusuf Kalla juga menyoroti pentingnya proses yang baik dalam demokrasi. Seorang pemimpin yang terpilih melalui proses yang keliru, salah, dan buruk kemungkinan besar akan menjadi pemimpin yang tidak baik.
Analoginya seperti membuat kue; jika prosesnya tidak benar, hasilnya pasti jelek.
Baca Juga: Pernyataan Politik Presiden Jokowi Tuai Amarah, Jusuf Kalla Ingatkan soal Sumpah
"Karena seorang pemimpin yang dilahirkan dengan proses yang keliru, yang salah, dan buruk akan menghasilkan jual pemimpin yang buruk. Sama saja, kalau Anda membuat kue, prosesnya tidak benar, tidak sesuai, maka kue juga pasti jelek. Jadi kalau ingin pemimpin yang baik, maka kita harus mempunyai proses yang baik," ucap mantan Presiden RI tersebut.
Jusuf Kalla menegaskan bahwa jika kita menginginkan pemimpin yang jujur, maka prosesnya juga harus jujur.
Ancaman, ketakutan, dan tindakan tidak sesuai dalam proses demokrasi hanya akan menghasilkan pemimpin yang mencerminkan hal tersebut.
"Ingin pemimpin yang jujur, harus proses yang jujur. Kalau prosesnya jelek, prosesnya tidak benar, prosesnya dengan sesungguhnya, prosesnya dengan ancaman, prosesnya dengan ketakutan. Akan menghasilkan pemimpin seperti itu juga," ucapnya.***

Share this article
Jusuf Kalla ketika menghadiri kampanye calon pasangan nomor urut 01, Anies Baswedan, terjadi tekanan terhadap Bupati Barru, Suardi Saleh.