AYOJAKARTA.COM -- Nama Chaim Fetter yang merupakan seorang warga negara Belanda, kembali membuat ribuan warganet di media sosial terpana.
Di tengah pekatnya bayangan tentang komersialisasi pendidikan di Indonesia yang menuai beragam polemik, Chaim Fetter justru bertindak terbalik.
Berawal dari kunjungan wisata ke Pulau Lombok, NTB, keputusan besar kemudian diambil Chaim Fetter setelah “Dipalak” oleh sejumlah anak jalanan.
Dari peristiwa yang terjadi di tahun 2004 tersebut, Chaim kemudian mengajak bicara para pelaku pemalakan perihal pentingnya pendidikan.
Menyadari keinginan dari para anak jalanan yang ingin mendapatkan pendidikan, Chaim berusaha menjadi orang tua asuh.
Tetapi Chaim justru sempat terkejut dengan besarnya biaya pendidikan di Lombok yang ketika itu tergolong cukup mahal, sebab pendidikan di negara asalnya serba gratis.
Tidak lantas menyerah, demi mendapatkan cukup uang Chaim Fetter memutuskan untuk menjual perusahaan yang dimilikinya di Belanda.
Berbekal uang hasil menjual perusahaannya tersebut, Chaim akhirnya berhasil menyekolahkan sedikitnya 200 anak Indonesia untuk bisa merasakan pendidikan.
Untuk terus bisa menjalankan misi kemanusiaan di bidang pendidikan, pria asal Belanda yang akhirnya memutuskan menjadi mualaf tersebut juga mendirikan yayasan.
Berdiri di atas lahan seluas satu setengah hektare, Chaim Fetter dengan bantuan warga setempat memprakarsai lahirnya Yayasan Peduli Anak.
Selain berfungsi sebagai tempat penampungan bagi para anak jalanan dan putus sekolah, lembaga sosial tersebut juga dijadikan sebagai fasilitas kesehatan.
Salah satu hal yang membuat ribuan warganet merasa simpatik adalah karena Chaim melakukan semua peran sosial kemanusiaan itu tanpa memungut biaya.
Aksi sosial dan kepedulian yang ditunjukkan Chaim kepada anak-anak jalanan, membuatnya sempat mendapat undangan khusus dari Andy F Noya.
Saat menjadi narasumber dalam acara Kick Andy, Chaim yang kemudian menikah dengan wanita asal Surabaya sempat mengungkapkan kecintaannya kepada Indonesia.
Menurut Chaim, pekerjaan orang tuanya sebagai Diplomat di era Soekarno membuatnya menilai Indonesia tidak ubahnya sebagai rumah kedua.
“Sejak kecil saya merasa pulang setiap kali ke Indonesia,” ungkap Pria yang mengaku sangat akrab dengan Nasi dan Pisang Goreng.
Baca Juga: Gaji KPPS Pemilu 2024 Kapan Cair dan Besaran Santunan yang Diterima Jika Meninggal Saat Bertugas
Pengalaman hidup yang susah di masa kecil setelah perceraian kedua orang tuanya, membuat Chaim harus memutar otak dan bertindak kreatif.
Kerja kerasnya dalam menggeluti bidang e-commerce yang membuatnya dilimpahi kesuksesan materi, tidak membuat jiwanya merasakan bahagia.
“Saya punya banyak uang tapi tidak merasa senang, karena berbagi saya kemudian bahagia,” ungkap Chaim. ***

Share this article
Jadi sorotan ribuan warganet, ini alasan Chaim Fetter nekat menjual perusahaan pribadinya demi anak Indonesia.