AYOJAKARTA.COM -- BMKG mengingatkan zona megathrust merupakan salah satu sumber gempa yang paling berpotensi menyebabkan bencana besar di Indonesia.
Berdasarkan peta seismik, zona megathrust ini berada di lepas pantai Sumatera bagian barat dan dapat memengaruhi sejumlah wilayah yang berada di sepanjang garis pantai barat Sumatera, Selat Sunda, hingga ke selatan Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.
Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati mengungkapkan, daerah yang akan paling terdampak jika terjadi gempa di zona megathrust adalah wilayah yang terletak dekat dengan zona tersebut.
Baca Juga: Riset dan Teknologi Bisa Cegah Dampak dari Gempa Zona Megathrust? Begini Kata Peneliti BRIN
“Zona megathrust ini posisinya di lepas pantai Sumatera bagian barat, mulai dari Aceh, Medan, Sumatera Barat, Bengkulu, hingga Sumatera Selatan," ujarnya.
Zona megathrust tersebut membentang sekitar 250 km dari lepas pantai dan berada di dasar laut pada kedalaman ribuan meter.
Dwikorita juga menambahkan bahwa selain pantai barat Sumatera, wilayah di Selat Sunda juga perlu waspada karena zona megathrust ini membelok ke selatan Selat Sunda dan terus ke selatan Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara.
Peringatan ini diberikan untuk mengingatkan masyarakat dan pemerintah daerah agar meningkatkan kesiapsiagaan terhadap kemungkinan gempa besar yang dapat terjadi di kawasan ini.
Zona megathrust dikenal sebagai salah satu sumber gempa paling kuat karena melibatkan pertemuan dua lempeng tektonik, yang dapat menyebabkan gempa bumi dahsyat dan berpotensi memicu tsunami.
Arti Gempa Megathrust
Gempa megathrust adalah fenomena geologis yang terjadi di zona kontak antara dua lempeng tektonik, tepatnya di daerah tumbukan lempeng Samudra Indo-Australia yang bergerak masuk ke bawah lempeng Benua Eurasia.
Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menjelaskan bahwa zona megathrust ini merupakan area di mana terjadi kontak antara kedua lempeng tersebut.
Zona ini tersebar di sepanjang lepas pantai barat Sumatra hingga selatan Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.
Dwikorita menegaskan bahwa gempa megathrust terjadi akibat energi yang tersimpan selama proses tumbukan lempeng.
"Saat lempeng Samudra Indo-Australia menumbuk masuk ke bawah lempeng Eurasia, terjadi kontak di antara keduanya yang menciptakan zona megathrust. Zona ini terletak di kedalaman sekitar 40 hingga 50 kilometer di bawah permukaan bumi," ujar Dwikorita.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa zona megathrust mendapatkan namanya karena ukuran bidang kontaknya yang sangat panjang, mencapai ribuan kilometer.
"Mega berarti besar, dan thrust artinya patahan naik. Jadi, zona megathrust adalah tempat di mana terjadi patahan naik akibat tekanan dari tumbukan lempeng," tambahnya.
Dwikorita juga menyoroti bahwa gempa megathrust dapat melepaskan energi yang sangat besar, yang telah tersimpan selama ratusan tahun.
Baca Juga: WASPADA! 2 Ancaman Nyata dari Gempa Megathrust Dibocorkan Peneliti BRIN
"Energi yang tersimpan ini dapat menghasilkan gempa dengan magnitudo sangat besar, bahkan bisa mencapai 9,1 atau lebih," jelasnya.
Dwikorita mengingatkan bahwa apa yang disampaikan BMKG bukanlah prediksi melainkan hasil analisis pakar.
"Masyarakat harus memahami bahwa kita tidak dapat memprediksi kapan gempa megathrust akan terjadi. Apa yang kami sampaikan adalah skenario terburuk, dan penting bagi kita semua untuk siap siaga," katanya.
Baca Juga: Siaga Megathrust! Ini Beberapa Antisipasi yang Perlu Dilakukan saat dan setelah Gempa Bumi
Menurutnya, meskipun ilmu prediksi gempa telah ada, akurasi prediksi tersebut masih belum sempurna.
Oleh karena itu, fokus BMKG saat ini adalah menyiapkan masyarakat dan pemerintah daerah untuk menghadapi potensi gempa, agar dapat meminimalisasi korban jiwa jika gempa besar terjadi di masa mendatang.

Share this article
BMKG mengingatkan zona megathrust merupakan salah satu sumber gempa yang paling berpotensi menyebabkan bencana besar di Indonesia.