AYOJAKARTA.COM---Salah satu calon presiden 2024, Anies Baswedan memberikan opininya mengenai seorang pemimpin. Menariknya walaupun dirinya akan maju Pilpres 2024 tapi menurutnya seorang pemimpin tidak harus menjadi presiden.
Pengalaman Anies Baswedan yang mengenyam kuliah di luar negeri sedikit banyak menjadikan patokannya pada saat menjadi Gubernur DKI Jakarta pada 2017 lalu.
Anies Baswedan mengaku pernah berada pada strata ekonomi terendah di masyarakat pada saat di kuliah di Amerika Serikat dan didampingi istrinya.
Pada saat dirinya dan istri berada di Amerika Serikat, Anies pernah mengantri di dinas kesehatan untuk mendapatkan bantuan kesehatan secara gratis.
Dilansir AyoJakarta.com dari kanal YouTube Prestige Productions (21/2/2023), momen tersebut menjadi salah satu pembelajaran baginya dan kemudian ia bawa pada saat ia menjadi pemimpin DKI Jakarta.
“Pengalaman di posisi paling bawah di dalam strata masyarakat itu memberikan bekal ketika saya bertugas kemarin di Jakarta,” ungkap Anies Baswedan.
“Saya sering pesankan pada semua kalau kita menjadi pemberi bantuan itu perlakukan yang penerima bantuan seperti your premium customers,” lanjutnya.
Pada saat Anies menjabat menjadi Gubernur, ia selalu berpesan untuk para petugas bansos untuk selalu bersikap ramah dan tidak merendahkan kepada para penerima manfaat bansos.
Baca Juga: Blak-blakan! Sandiaga Uno Ungkap Hubungannya dengan Anies Baswedan: Kita Nggak Boleh Baperan
Walaupun sempat berkarier di dalam dunia pendidikan, saat ini Anies menjadi salah satu tokoh politik yang tersohor.
Tapi menurutnya politik merupakan salah satu bagian dari aktivitas sosial namun skalanya secara nasional.
“Jadi politik bukan sebagai sebuah tempat yang terisolasi tapi kita semua adalah bagian dari itu,” kata Anies.
Seorang pemimpin menurut Anies adalah seseorang yang memiliki pengikut. Ia menganalogikan seorang imam dalam salat berjamaah.
Imam ini bisa disebut pemimpin jika ada yang mengikutinya untuk salat menjadi makmum. Apabila seseorang menunaikan salat di masjid dan berada pada tempat imam tapi tidak ada yang mengikuti maka ia tidak bisa dikatakan sebagai pemimpin.
“Disebut pemimpin jika dan hanya jika ada yang mengikuti,” ujar Anies Baswedan.
Sama halnya untuk pemimpin sebuah daerah maupun negara. Buka karena jabatan presiden kemudian seseorang bisa dikatakan sebagai pemimpin. Tapi karena banyak orang yang mengikutinya.
“Bukan hanya jabatannya disebut pemimpin, pemimpin itu kalau punya pengikut. Tanpa pengikut, kamu bukan seorang pemimpin,” ujar Anies.
Pengikut yang dimaksud Anies adalah orang-orang yang mengikuti ide, gagasan, pemikiran, dan perbuatan dari pemimpin.
Di samping itu seorang pemimpin harus memiliki ide, gagasan dan juga mimpi yang bisa diwujudkannya dengan dukungan dari nyali, manajemen, dan juga kemampuan.
Hal yang paling penting adalah ada karya atau wujud hasil dari ide-ide atau mimpi-mimpi yang ingin diwujudkan oleh seorang pemimpin.***

Share this article
Bukan hanya jabatannya disebut pemimpin, pemimpin itu kalau punya pengikut. Tanpa pengikut, kamu bukan seorang pemimpin,”ujar Anies Baswedan