AYOJAKARTA.COM - Sejak ditetapkan sebagai tersangka penistaan agama dan TPPU, nama Panji Gumilang semakin menjadi topik pembicaraan.
Pasalnya, publik terus dibuat penasaran dengan sumber keuangan yang dimiliki oleh petinggi di ponpes Al Zaytun tersebut.
Anggapan bahwa Ponpes Al Zaytun dan Panji Gumilang berhubungan dekat dengan kelompok Negara Islam Indonesia (NII), juga masih belum sepenuhnya terbukti.
Baca Juga: 40 Ide Hadiah Lomba 17 Agustus Murah Meriah, Cocok untuk Seluruh Kalangan!
Karenanya sejumlah institusi pemerintah dan pihak terus melakukan pendalaman mengenai kurikulum di ponpes terbesar se Asia Tenggara ini.
Proses penelitian terkait hubungan Mahad Al Zaytun dengan NII, juga sempat diungkap oleh Peneliti Utama Puslitbang Depag Ahmad Syafii Mufid.
Menurut Ahmad Mufid, NII merupakan suatu gerakan di Indonesia yang memiliki akar sejarah panjang.
“Tertanam dalam hati tokoh-tokoh muslim, dan juga terus diwariskan dari generasi ke generasi,” ungkap Ahmad.
Lebih lanjut, Ahmad Syafii Mufid menilai bahwa gerakan NII masih hidup dan terus berkembang dan mengalami perubahan.
Perkembangan dan perubahan tersebut selanjutnya, Ahmad Mufid menilai menjelma menjadi sebuah ponpes bernama Al Zaytun.
“Akhirnya kita tahu bahwa Al Zaytun ini memang sebuah gerakan, satu sisi ia adalah institusi pendidikan, di sisi lain ditopang gerakan yang namanya NII,” jelas Ahmad.
Pernyataan Peneliti Utama Puslitbang Depag terkait dengan Al Zaytun, juga diperjelas oleh Bilal Usman yang merupakan mantan seorang Bupati di NII.
Menurut Bilal, tujuan awal dari pembangunan ponpes Al Zaytun tidak lain sebagai upaya untuk melakukan sebuah proses regenerasi.
Baca Juga: 4 Jurusan STAN Paling Banyak Peminat dan Berpotensi Punya Jenjang Karier yang Mentereng
“Ide dasar Al Zaytun sendiri memang sebagai tempat untuk memiliki generasi penerus dari anak turunnya para pejuang NII,” ujarnya.
Oleh sebab itu, Bilal menambahkan perlu dilakukan sebuah proses dimana generasi muda NII tidak terkontaminasi dengan ajaran lain.
Sehingga untuk merealisasikan perjuangan tersebut, perlu dibuat suatu fasilitas khusus yang diperuntukkan juga secara khusus.
Membesarnya pondok pesantren Al Zaytun sebagai sekolah untuk menciptakan kader pejuang NII, disikapi Bilal sebagai bentuk lemahnya pertahanan negara.
Pada 10 Januari 2008, ketika merayakan tahun baru Islam beragam kalangan datang untuk memberi sedekah yang nilainya mencapai miliaran rupiah.
Baca Juga: Tarif Tol Jagorawi dan Sedyatmo Naik Mulai 20 Agustus, Ini Rincian Tarif Terbarunya
Proses memberikan sedekah ini, oleh para simpatisan gerakan NII biasa disebut dengan istilah Melempar Jumrah.
“Setiap 1 Muharram, mereka mengumpulkan dana dari setiap teritorial gerakan bawah tanah, itu yang mereka istilahkan melempar jumrah,” ungkap Mantan Bupati NII.
Demikian pengakuan Mantan Bupati NII yang dikutip Ayojakarta pada Jumat, 11 Agustus 2023 dari kanal YouTube Metro TV. ***

Share this article
Panji Gumilang disebut dekat dengan gerakan NII, ada istilah lempar jumrah untuk sedekah di Ponpes AL Zaytun, benarkah?