AYOJAKARTA.COM- Peristiwa Gerakan 30 September 1965 meninggalkan sejarah tragis bagi Indonesia.
Gerakan 30 September atau biasa disingkat G30S/PKI merupakan peristiwa berdarah yang menelan banyak korban tak berdosa.
Baca Juga: Pengakuan Bripka RR Ketika di Magelang: Brigadir J Dipaksa Masuk ke Kamar Putri Candrawathi
Peristiwa berdarah ini bermula tatkala mencuatnya isu untuk melengserkan Soekarno.
Diketahui dalang dari peristiwa ini adalah Partai Komunis Indonesia atau disingkat PKI.
PKI memiliki tujuan untuk mengubah Indonesia menjadi negara yang menerapkan sistem komunis.
Baca Juga: Wajib Tahu Biar Nggak Norak! Ini 44 Singkatan Bahasa Inggris Gaul saat Chatting
Aksi kejam G30S PKI ini diawali dengan menjadikan para Jenderal sasaran penculikan.
Namun masih terbesit satu hal yang sampai saat ini masih menjadi pertanyaan.
Hal tersebut adalah mengenai fakta tidak ditangkapnya Soeharto oleh para PKI saat Gerakan 30 September 1965 yang lalu.
Padahal saat itu banyak sekali Jenderal tidak bersalah yang diketahui menjadi korban keganasan G30S PKI.
Diketahui dengan jelas bahwa saat tragedi G30S PKI berlangsung, Soeharto merupakan Jenderal yang berpangkat Mayor Jenderal.
Tidak hanya itu, Soeharto saat itu juga merupakan Panglima Kostrad.
Kolonel Abdul Latif yang merupakan salah satu pelaku dari peristiwa G30S PKI diinformasikan pernah memberikan kesaksian mengenai hal tersebut.
Baca Juga: Amalan Syekh Ali Jaber untuk Membuka Pintu Rezeki, Anda Wajib Tahu dan Lakukan!
Dikutip dari akun tiktok @exstertainment, Latif mengatakan bahwa saat itu Soeharto dianggap sebagai sosok loyalis Presiden Soekarno.
Karena alasan itulah yang membuat Soeharto tidak menjadi incaran para PKI.
Di malam sebelum tragedi 30 September 1965, diinformasikan kala itu Abdul Latif sempat bertemu dengan Soeharto.
Baca Juga: Masih Belum Ditahan, Diduga Putri Candrawati Punya Bekingan Kuat hingga Status Anak Jenderal TNI
Diketahui saat itu Soeharto sedang menjaga anaknya, yakni Tommy Soeharto.
Kondisi Tommy saat itu tengah sakit dan ia dirawat di RSPAD Gatot Subroto.
Latif mendatangi Soeharto untuk menginformasikan bahwa akan ada aksi penculikan terhadap para Jenderal.
Berdasarkan informasi dari Latif, saat ia menyampaikan informasi tersebut, Soeharto nampak tidak memberikan respon apapun.
Baca Juga: Polri Bantah Isu Kakak Asuh Ferdy Sambo, Kadiv Humas: Hanya Dugaan
Namun diketahui ternyata Soeharto justru membantah informasi yang disampaikan oleh Latif mengenai akan adanya Gerakan 30 September itu.
Soeharto justru berpendapat lain terhadap kedatangan Abdul Latif tersebut.
Menurut informasi, Soeharto justru mengatakan bahwa Latif memiliki niat yang jahat.
Soeharto menyebut bahwa kedatangan Latif yang sebenarnya adalah untuk membunuh dirinya.
Baca Juga: Ricky Sitohang Singgung Nama Putri Candrawathi : Si Biang Keruwetan
Namun anggapan Soeharto, karena saat itu posisinya berada di tempat umum, jadi niat Latif tersebut diurungkan.
Pernyataan Soeharto tersebut akhirnya justru membuat Latif dijebloskan ke dalam penjara sejak tanggal 11 Oktober 1965.
Sampai pada akhirnya Abdul Latif baru bisa keluar dari penjara dan bisa menghirup udara bebas pada 25 Maret 1999. ***

Share this article
saat peristiwa G30S/PKI terjadi, banyak Jenderal yang diculik dan dibunuh, lalu mengapa Suharto yang juga Jenderal bisa selamat