AYOJAKARTA.COM--- Kasus pembunuhan berencana Brigadir Yosua masih terus berlanjut dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Pengakuan tak kuasanya Eliezer menolak perintah Sambo pun menjadi sorotan.
Bagaimana tidak, Richard Eliezer merupakan mantan anak buah (ajudan) Ferdy Sambo yang diketahui sebagai polisi berpangkat paling rendah.
Dirinya diketahui merupakan satu-satunya terdakwa yang mendapat perintah langsung dari Sambo untuk menembak Brigadir Yosua di Duren Tiga.
Baca Juga: Viral Pencuri di Gerbong KRL Tujuan Bekasi Diamuk Anker Usai Curi HP, Warganet : Bikin Trauma!
Kubu Sambo pun berkelit, dirinya mengaku tidak pernah memerintah Eliezer menembak Yosua sewaktu malam kejadian itu.
Menurut Ferdy Sambo, saat itu dirinya hanya memerintah Eliezer menghajar Brigadir Yosua dan bukan menembak.
Sementara, banyak saksi ahli dan bukti yang merujuk Ferdy Sambo telah berbohong. Sedangkan keterangan Richard Eliezer mendekati kebenaran.
Lantas bagaimana tanggapan ahli kriminolog Prof. Muhammad Mustofa dari Universitas Indonesia yang sekaligus saksi ahli kriminolog dalam persidangan kasus pembunuhan Brigadir Yosua? simak penjelasannya berikut ini.
Dikutip dari kanal Youtube Official iNews dalam acara One On One pada Rabu (04/01/2023) bersama Fanni Imaniar, membicarakan terkait posisi Richard Eliezer tatkala diperintah oleh Ferdy Sambo.
Prof. M. Mustofa meyakini adanya perintah yang tidak bisa dibantah oleh Eliezer, membuat dirinya terpojok sehingga ia pun mau tidak mau menembak rekannya Yosua.
"Karena kan ada ketakutan untuk tidak melaksanakan perintah, apalagi yang Eliezer itukan pangkatnya paling bawah masih barangkali belum dua tahun jadi polisi," kata Prof. M. Mustofa.
"Sehingga dia keberanian untuk menolak perintah itu menjadi lemah sekali," tambahnya.
Baca Juga: Ditanya Soal Ramalan Untuk Hukuman Ferdy Sambo CS, Jawaban Hard Gumay Bikin Kaget
Menyambung penjelasan Prof M. Mustofa, Fanni pun menyinggung terkait prinsip jiwa Korsa yang tertanam dalam pada organisasi kepolisian dan organisasi semi militer, "Katanya ada jiwa korsa juga prof?."
Prof. M. Mustofa pun lantas membenarkan, sebab prinsip jiwa korsa tersebut memang telah tertanam dalam organisasi kepolisian ataupun organisasi semi militer yang lain.
"Memang itu yang ditanamkan di dalam organisasi polisi yang semi militer, kalau diperintah siap, siap, laksanakan," ujar Prof. M. Mustofa.
"Walaupun perintahnya gak bener?," tanya Fanni kemudian.
"Iya, itu kan di dalam peraturan polisi. Apakah anggota polisi bisa menolak perintah atasan yang dipandang melanggar hukum. Tapi itukan secara tertulis, di dalam realitas konkrit kadang-kadang ada suatu keadaan yang menyebabkan mau menolak gak berani gitu," ucapnya.
Lebih lanjut, Prof. M. Mustofa pun menjelaskan bahwa posisi Eliezer yang berpangkat terlalu jauh dari atasanya itu, membuat dia takut dan tidak mempunyai pilihan lain untuk membantah atau menolak perintah.
"Karena jenjang pangkatnya terlalu jauh," kata Prof. M. Mustofa.
"Memang ada tendensi seperti itu? takut sama yang punya jabatan yang lebih tinggi, takut untuk menolak perintah?," imbuhnya.
Menurutnya hal itu terjadi, sebab adanya hubungan atasan dan bawahan yang tidak ada keseimbangan, bahkan sekedar untuk memberikan saran.
"Biasanya begitu, hubungan atasan bawahan apabila gak seimbang itu bahwa itu bisa saja tidak berani menolak perintah dalam keadaan apapun," kata Prof. M. Mustofa.
Kecuali, orang ini memiliki rasionalitas yang tinggi hingga bisa memiliki keberanian untuk mengingatkan atasannya berpikir jernih.
"Kecuali yang dibawah itu punya rasionalitas yang barangkali relatif tinggi, kemudian dia bisa mempengaruhi atasan bahkan. Jadi mengingatkan bukan dalam rangka memerintah atasan tapi mengingatkan atasan," ucap Prof. M. Mustofa.
Sayangnya, Prof. M. Mustofa menyebut hal tersebut memiliki persentase yang kecil ada di dalam organisasi militer.
"Tapi di dalam organisasi yang militer, semi militer saran dari bawahan itu hampir tidak diindahkan," pungkasnya.***

Share this article
posisi Richard Eliezer yang berpangkat terlalu jauh dari atasanya itu, membuat dia takut dan tidak mempunyai pilihan lain untuk membantah