AYOJAKARTA.COM--Setelah dua tahun vakum karena adanya pandemi Covid 19, kini pada tahun 2023 ini masyarakat Tionghoa yang berada dikawasan Ketandhan yang dikenal dengan Kampoeng China Ketandan Kulon, Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta, DIY bisa merayakan Imlek kembali.
Menurut penanggalan masehi, Imlek 2023 jatuh pada tanggal 22 Januari 2023. Kawasan Ketandan yang identik dan dikenal dengan China Town atau Kota Cina Yogyakarta ini sudah melakukan persiapan yang matang untuk menyambut imlek tahun ini.
Kemeriahan yang disambut antusiasme warga sekitar dan dari luar Yogyakarta termasuk Turis Asing.
Melansir laman Humas Pemrov DIY, Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X menerima audiensi Panitia Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) ke XVIII.
Dipimpin Ketua Pelaksana PBTY Sugiarto didampingi panitia lainnya dan Dirut Gembira Loka Yogyakarta KMT. A.Tirtodiprojo, audiensi berlangsung Selasa (15/11) di Gedhong Pare Anom, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta.
PBTY akan dilaksanakan mulai tanggal 30 Januari hingga 5 Februari 2023 di Kampung Ketandan, Kota Yogyakarta.
Adapun Event Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta tahunan sendiri terselenggara atas kerjasama dari Jogja Chinese Art and Culture Center (JCACC) yang merupakan wadah gabungan dari 14 Paguyuban Tionghoa yang ada di Yogyakarta.
Untuk pengampu PBTY XVII Tahun 2023 adalah Paguyuban Hakka Yogyakarta yang mengambil tema "Bangkit Jogjaku, Untuk Indonesia".
Lebih lanjut dikatakan Sugiarto bahwa dalam rangka Peringatan Tahun Baru Imlek 2574, gabungan dari 14 Paguyuban Tionghoa Yogyakarta juga akan menggelar berbagai kegiatan yaitu Pagelaran Seni dan Budaya, Bazar dan Pameran.,
kegiatan ini melibatkan kurang lebih 200 stand oleh UMKM di lingkungan DIY, serta Panggung Pentas Seni selama 7 hari.
Baca Juga: Asal-usul Imlek, Berawal dari Monster Nian yang Diusir!
Pekan Budaya ini digelar untuk umum dan terbuka bagi masyarakat bertujuan meningkatkan rasa persaudaraan sesama umat, menjaga dan membangun kebersamaan, sehingga terciptanya persatuan dan kesatuan sesama anak bangsa.
Wakil Gubernur DIY juga menyampaikan kepada PBTY agar berkoordinasi untuk mengidentifikasi antara tarif parkir dengan acara tiket masuk .
Pengunjung dapat menunjukkan tiket masuk event untuk pembayaran tarif parkir, sehingga pengunjung tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk membayar tarif parkir.
”Ini bisa coba dilakukan dengan koordinasi yang intens antara panitia penyelenggara, tukang parkir, dengan para pedagang biar tidak terlalu membebani pengunjung dengan parkir yang mahal,” tandas Wagub.
Hal ini menurutnya sudah dilakukan pula di Bali di mana tarif parkir menyatu dengan tiket masuk objek wisata, sehingga pengunjung tidak dibebani dengan tarif parkir yang naik setiap kali ada event tertentu.

Share this article
Berikut rangkaian kegiatan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) ke XVIII di kota Cina kawasan Malioboro DIY