AYOJAKARTA.COM - Aktivitas kegempaan yang melanda wilayah Indonesia akhir-akhir ini memaksa kita untuk lebih mengenal bencana apa yang kemungkinan mengintai kita.
Beberapa gempa yang terus terjadi di wilayah Jawa Barat dan selalu dirasakan oleh warga DKI Jakarta membuat kita khawatir akan adanya aktivitas gempa salah satunya megathrust.
Para ahli pun seringkali memperingatkan masyarakat yang berada di wilayah DKI Jakarta akan adanya ancaman bencana yang melanda di wilayah tersebut.
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Plt. Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari yang merupakan salah satu anggota tim penelitian gempa Megathrust menjelaskan tentang prediksi terjadinya gempa besar tersebut.
Baca Juga: Megathrust Ancam Pulau Jawa! Pemahaman Masyarakat Soal Gempa Dahsyat Itu Sudah Benar? Simak di Sini
Dikutip dari YouTube Harian Kompas (20/1/2023), penelitian tersebut dilakukan dengan menggunakan Global Positioning System (GPS) dan ditemukan fakta bahwa gempa bumi di Selatan Jawa diprediksi setiap 400 tahun.
Sejarah pun menyebutkan bahwa gempa bumi megathrust yang terakhir mengguncang selatan Jawa terjadi pada tahun 1818.
"Dia bisa sampai itu dengan pereda akumulasi energi 400 tahun, sedangkan kita masih punya catatan sejarah terakhir di 1818, kita belum punya nih yang crossing sampai 400 tahun, jadi kita nggak tau nih ini terakhir, ini terjadinya kapan, sehingga kita masih belum bisa menentukan ini kira-kira berapa puluh tahun lagi dia akan mengulang dengan kekuatan 8,8 hingga 9," papar Abdul Muhari.
Baca Juga: Ngeri! 17 Kali Gempa Diatas 5 Magnitudo Mengguncang Indonesia Sejak 1 Januari 2023, Ini Kata Daryono
Namun dengan ditemukannya fakta tersebut, masyarakat semakin dibuat paranoid dan ketakutan dengan banyaknya gempa yang terjadi bukan pada zona megathrust.
Hal ini disebabkan karena beberapa ahli mengatakan wilayah DKI Jakarta dilewati oleh sebuah sesar yang terpantau cukup aktif yaitu sesar baribis.
Dikutip dari kanal YouTube Harian Kompas (10/12/2022), Sesar Baribis ini merupakan jalur patahan yang terletak berjarak 25 km di Selatan Jakarta.
Pada saat ini kondisi sesar tersebut dalam keadaan terkunci, ketika energi peregangan yang akhirnya diakumulasikan terlepaskan maka akan menimbulkan gempa yang besar.
Terlebih lagi sejarah mengatakan bahwa sesar baribis ini pernah membuat gempa bumi besar pada ratusan tahun silam.
Baca Juga: Putri Candrawathi Hanya Dituntut 8 Tahun Penjara, Reza Indragiri: JPU Gagal Mewakili…
Bahkan pada Daryono (Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG) dalam sebuah Program Halo Indonesia yang tayang pada akun YouTube DAAI Magazine (1/7/2022) mengatakan keaktifan sesar tersebut telah diteliti oleh beberapa ahli pada tahun 1996 silam.
Daryono mengatakan bahwa pada tahun 1996 itu ada dua orang peneliti geologi yaitu barber dan simanjuntak menerbitkan sebuah publikasi ilmiah bahwa ada sebuah pergerakan sesar naik yang berarah dari Purwakarta sampai Serang.
Awalnya beberapa orang ahli sempat meragukan mengenai keaktifan sesar tersebut, namun pada akhirnya dapat dibuktikan setelah adanya gempa yang mengguncang Bekasi (10/12/2019) M3,2.
Selain gempa yang terjadi di Bekasi, pada tanggal 4 Januari 2021 terdapat gempa bumi M2,4 yang berpusat di Jonggol.
Jika perkiraan para peneliti itu benar akan adanya gempa megathrust yang melanda wilayah megapolitan Jabodetabek, maka sebanyak 29 juta jiwa atau 11 persen penduduk Indonesia dalam ancaman.***

Share this article
Aktivitas kegempaan yang melanda wilayah Indonesia akhir-akhir ini memaksa kita untuk lebih mengenal bencana apa yang kemungkinan mengintai