AYOJAKARTA.COM - Irma Hutabarat ikut menyoroti perjalanan sidang pembunuhan terhadap Brigadir Yosua Hutabarat yang menjerat Richar Eliezer.
Tidak hanya Richard, Irma Hutabarat namun masyarakat juga menantikan bagaimana vonis yang akan dijatuhkan hakim nantinya.
Tuntutan jaksa penuntut umum terhadap Richard Eliezer mengundang banyak simpati warganet, hal inilah salah satunya yang menarik bagi seorang Irma Hutabarat.
Irma Hutabarat menuturkan seluruh bangsa sudah bergerak, bahkan di beberapa minggu belakangan, bagaimana semakin besar gerakan itu semakin solid orang-orang yang mendukung Eliezer.
Menurut aktivis sekaligus Ketua Komunitas Civil Society Indonesia, sebetulnya pembelaan, simpati bukan hanya pada sosok Eliezer tetapi bion atau kehidupan Eliezer.
Di Belakang sosok Eliezer terdapat nilai-nilai kejujuran, keberanian, bagaimana terdakwa bisa melawan arus yang menunjukan sikap ksatria sesuai nilai-nilai yang tumbuh di masyarakat menurut Irma Hutabarat.
Menurut aktivis yang lahir di Jakarta, 25 Desember 1962, Eliezer atau Icad ini sudah mempersatukan seluruh bangsa dalam sebuah nilai-nilai yang kemudian tumbuh di masyarakat.
Baca Juga: Denny Darko Prediksi Pemenang Pilpres 2024: Ganjar, Prabowo, atau Anies Baswedan?
Nilai-nilai yang sebetulnya dirindukan oleh seluruh masyarakat.
Kejahatan tidak akan menang karena menimbulkan penderitaan bagi banyak orang, namun diamnya orang yang benar ini lah menyebabkan seakan-akan kejahatan tidak ada habisnya.
"Yaitu nilai kejujuran, karena terlalu banyak orang berdusta dan berbohong di negeri ini, baik di pengadilan, kehidupan sehari-hari," tutur Irma yang
dikutip Ayojakarta.com dari kanal YouTube miliknya.
"Lalu yang kedua, nilai keberanian yang ditunjukan bagaimana dia melawan atasannya, melawan seluruh doktrin, dan skenario, itu juga suatu nilai luhur yang dirindukan oleh masyarakat," tegas aktivis senior tersebut.
"Selanjutnya adanya nilai pertobatan, dimana orang yang salah kemudian mengakui kesalahannya," lanjutnya.
Dalam video tersebut Irma Hutabarat juga membacakan surat dari pendukung Eliezer, berikut kutipannya.
"Berdirilah tegak Richard , kau duduk di depan mahkamah, dan keluar dari sidang pengadilan, bukan lagi seorang polisi yang membunuh. kehadiranmu sebuah metamorfosis, kau sebuah ambiguitas.
Kau terdakwa yang membuat Yosua menjadi korban, tapi kau juga seorang korban.
Kau subjek yang menembak Yosua, dan tanganmu berdarah-darah, tapi kau juga objek yang dijadikan boneka digerakan atasanmu.
Kau pelengkap penderita sebuah kekuasaan, kau pelengkap penyerta proses keadilan.
Kau penolong agar setidaknya bapak ibu Yosua, pacarnya, dan kami semua tak terhimpit sesak dan sedih sebagai korban kekuasaan."
Dari kutipan surat ini aktivis senior Irma Hutabarat melihat bahwa Eliezer di sini sebagai korban yang membuat Yosua menjadi korban.
Eliezer adalah korban dari kepatuhan terhadap atasannya yaitu Ferdy Sambo.
Keberadaan Eliezer sebagai justice collaborator, membuka fakta kasus pembunuhan terhadap Yosua, membuat dia menjadi pahlawan kejujuran dan kebenaran.
Eliezer dianggap telah mampu melampaui rasa takutnya, mimpi buruknya dan rasa bersalahnya.***

Share this article
Tidak hanya Richard, Irma Hutabarat namun masyarakat juga menantikan bagaimana vonis yang akan dijatuhkan hakim nantinya.