AYOJAKARTA.COM – Tingginya sinar UV yang terjadi akibat cuaca panas ekstrim di Indonesia membuat masyarakat resah mengenai bahayanya bagi kesehatan sel kulit.
Namun Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menghimbau kepada masyarakat untuk tidak perlu panik karena peningkatan UV ini terjadi karena Indonesia sudah memasuki musim kemarau di Bulan April.
Karena posisi matahari saat ini tepat berada di atas garis khatulistiwa dan awan-awan hujan tidak ada maka paparan sinar UV terasa lebih kuat dan udara panas lebih terasa.
Ini merupakan siklus normal pergerakan matahari yang tidak perlu membuat masyarakat panik karena panasnya dinilai menyengat.
Dilansir AyoJakarta.com dari kanal YouTube tvOneNews (28/4/2023), Dokter Spesialis Kulit dr. Matahari Arsy menyampaikan bahwa cuaca panas ekstrim dapat menimbulkan dampak ringan hingga berat.
Namun perlu diketahui sebelumnya ada perbedaan dari bahayanya cuaca panas dan bahaya sinar UV. Jika cuacanya panas akan menimbulkan seseorang mudah berkeringat, dampak negatifnya adalah akan dimungkinkan timbulnya iritasi pada kelenjar keringat terutama pada anak-anak.
Sedangkan bahaya dari sinar UV dampak ringannya adalah masalah pigmen pada kulit sedangkan dampak yang cukup parah adalah dapat merusak sel kulit.
Baca Juga: Lanjutkan! Mahfud MD Apresiasi Kinerja Polda Sumut Pasca Penetapan Aditya Hasibuan Sebagai Tersangka
Bahkan tingginya sinar UV yang diterima oleh manusia dapat menimbulkan tumbuhnya tumor dan kanker.
“Untuk UV sendiri ini sungguh berbeda karena UV itu akan membuat kerusakan pada sel kulit yang paling parahnya dapat memicu kerusakan DNA sehingga dapat mencetuskan kanker atau tumor kulit,” kata dr. Matahari Arsy.
Nyatanya sinar UV tidak hanya berbahaya kepada seseorang yang sedang berada di luar ruangan saja tetapi ketika seseorang berada di dalam ruangan juga tetap bisa terkena dampak negatif sinar UV yang menembus jendela atau celah masuk lainnya.
Bagi orang-orang yang memiliki aktivitas sehari-hari yang mengharuskan berada di luar ruangan maka diwajibkan untuk menggunakan proteksi.
Seperti contohnya topi, kacamata hitam, masker, baju dan juga celana yang panjang dan menutupi kulit. Dianjurkan untuk menggunakan pakaian yang berwarna gelap terutama hitam karena dapat menyerap sinar UV.
“Mungkin ada yang mengira warna terang seperti putih lebih baik ternyata warna gelap atau hitam itu menyerap sebagian besar sinar UV sehingga sinar UV itu kesempatan untuk mengenai kulitnya lebih sedikit,” kata dr. Matahari Arsy.***

Share this article
Bahaya dari sinar UV dampak ringannya adalah masalah pigmen pada kulit sedangkan dampak yang cukup parah adalah dapat merusak sel kulit.