AYOJAKARTA.COM - Duka mendalam masih menyelimuti sepak bola Indonesia.
Terhitung sudah 5 hari berlalu sejak peristiwa kerusuhan pada saat pertandingan sepak bola di stadion Kanjuruhan, Surabaya.
Seperti yang kita ketahui pada Sabtu, (01/10/2022) diadakan laga pertandingan antara klub Persebaya dan Arema FC.
Pertandingan tersebut diadakan pada Liga 1 dengan skor akhir 3-2 dimenangkan oleh tim Persebaya.
Baca Juga: Rizky Billar Lakukan KDRT ke Lesti Kejora hingga Alami Trauma, Dewi Perssik: Pake Rok Aja
Awalnya pertandingan berjalan lancar seperti biasa.
Namun pada saat menuju akhir pertandingan nampak para supporter dari kedua tim mulai memanas.
Puncaknya saat tim Arema FC kalah dengan selisih 1 skor dari Persebaya.
Kekalahan Arema FC di kandang sendiri tersebut yang kemudian menjadikan para suporter Aremania tidak terima.
Sejak dulu kedua tim ini memang dikenal memiliki suporter dengan rivalitas tinggi.
Hal itulah yang kemudian mulai memancing kerusuhan antar suporter yang pada akhirnya membuat aparat bertindak dengan menyemprotkan gas air mata.
Namun tidak disangka efek dari gas air mata tersebut justru memakan banyak korban, bahkan mencapai lebih dari 125 orang meninggal dunia.
Banyaknya korban disinyalir karena gangguang pernafasan setelah menghirup gas air mata dan kondisi berdesakan saat akan keluar dari stadion yang ternyata masih dikunci.
Baca Juga: Berikut Bacaan Kitab Barzanji untuk Merayakan Maulid Nabi 1444 H, Lengkap Tanpa Perlu Mengunduh
Dikutip AyoJakarta.com dari akun tiktok El Natara (3/10/2022), menginformasikan ada seorang saksi yang berada di sekitar stadion menuturkan penyebab lain bagaimana kerusuhan tersebut bisa terjadi.
Saksi tersebut merupakan seorang pedagang es yang biasanya memang berdagang di ruko dekat stadion Kanjuruhan.
Pada saat kejadian, wanita paruh baya yang tidak diketahui identitasnya tersebut mengaku juga sedang berjualan.
“Nah, gas air matanya sebetulnya sih gak terlalu anu kok, cuman ini desak-desakan sama dorong-dorongan dan tendang-tendangan sesama suporter.” ujarnya mengawali cerita tragedi naas tersebut.
Baca Juga: Berikut Bacaan Kitab Barzanji untuk Merayakan Maulid Nabi 1444 H, Lengkap Tanpa Perlu Mengunduh
Namun penjual es tersebut menuturkan awal mula para suporter mulai memanas bukan hanya karena faktor kekalahan namun juga faktor dari alkohol.
“Tapi karena suporter sebelumnya sudah pada minum, yang meninggal itupun banyak yang bau alkohol.” ungkap penjual es dawet tersebut.
Bahkan ia menegaskan kesaksiannya tersebut karena seseorang yang ia kenal juga sedang mengkonsumsi alkohol pada saat pertandingan
“Yang saya tolong itu ternyata mas Nawi itu juga pemabuk itu temennya Wenda, Wenda itu temenku juga.” tegasnya.
Baca Juga: Meski Terbilang Telat, Ferdy Sambo Akhirnya Meminta Maaf Kepada Keluarga Brigadir J
Penjual es tersebut juga menceritakan pada saat ia menyelamatkan seorang polisi, dagangannya sempat akan di buang oleh beberapa para suporter yang mabuk tersebut.
“Lah si Pak Arif (Polisi yang menolong anak kecil) ini nolong tapi dipukuli kepalanya, kenapa saya tahu, karena saya selamat di toko saya.” ujar penjual es wanita tersebut.
“Pak Arif polisi ini tak selamatkan malah saat itu dawet jualanku ini mau dilemparkan terus saya bilang lho ini dawet mas jangan ya jangan terus diletakkan.” pungkas saksi mata tragedi Kanjuruhan itu.
***

Share this article
Namun penjual es tersebut menuturkan awal mula para suporter mulai memanas bukan hanya karena faktor kekalahan namun juga faktor alkohol.