AYOJAKARTA.COM - Tradisi kawin tangkap di Sumba Barat Daya, NTT baru-baru ini menjadi perbincangan publik.
Banyak warganet yang mencari tahu apa itu tradisi kawin tangkap setelah beredar video di media sosial sebuah praktik kawin tangkap atau kawin paksa di Sumba Barat Daya, NTT.
Tradisi kawin tangkap di Sumba itu terjadi pada Kamis 7 September 2023 tepatnya di Pertigaan Kalembuweri, Jalur Tena Teke dan Jalur Rara, Desa Waimangura, Kecamatan Wewewa Barat, Kabupaten Sumba Barat Daya.
Dadi video yang beredar, nampak sekelompok pria menangkap dan membawa seorang perempuan menggunakan mobil pick up secara paksa.
Baca Juga: Viral Kawasan Gunung Bromo Kebakaran Akibat Prewedding Nyalakan Flare, Diduga Pelaku Malah Santai
Praktik tersebut kemudian menuai respons warganet dan membuat publik geram.
Menurut warganet, tradisi tersebut sangat menyiksa karena memaksa seseorang untuk menikah.
Sementara itu, dikutip ayojakarta.com dari Twitter alias X @Heraloebss pada Jumat (8/9/2023), masyarakat Sumba menjelaskan bahwa sebenarnya pelaksanaan kawin tangkap tidaklah separah itu.
Namun sayangnya, beberapa tahun terakhir tradisi ini telah melenceng dari prosedur adatnya.
Lalu seperti apa sebenarnya tradisi kawin tangkap di Sumba?
Baca Juga: Jabatan Suami TikToker Luluk Dicopot, Usai Kasus Viral Marahi Siswi Magang di Swalayan
Dikutip ayojakarta.com dari Twitter @Heraloebss yang merujuk dari buku Masyarakat Sumba dan Adat Istiadatnya yang ditulis oleh Oe. H. Kapita, kawin tangkap merupakan tahap awal dari proses peminangan perempuan dalam adat masyarakat Sumba.
Dalam istilah adat, cara peminangan ini dinamakan piti rambang atau ambil paksa.
Dalam hal ini, calon mempelai laki-laki akan ‘menangkap’ calon mempelai perempuannya untuk kemudian dilamar dan dinikahi.
Dalam tradisi aslinya, praktik kawin paksa ini sebetulnya sudah disepakati antara kedua belah pihak.
Tak hanya itu, ada proses adat dan simbol-simbol yang perlu diikuti seperti kuda yang diikat atau emas di bawah bantal sebagai simbol proses adat tersebut.
Baca Juga: Bikin Terharu, Shopee Live Jadi Alasan Dibalik Air Mata Kebahagiaan Lesti Menyambut Sesi Perdananya
Kemudian, mempelai wanita yang telah bersedia untuk ditangkap juga sudah mempersiapkan diri dengan berdandan dan mengenakan pakaian adat lengkap.
Tak hanya itu, pihak mempelai pria pun menyiapkan diri dengan menunggang kuda lalu menangkap calon pengantinnya di lokasi yang telah disetujui.
Setelah ditangkap, pihak orang tua laki-laki akan memberikan satu ekor kuda dan sebuah parang Sumba sebagai permintaan maaf dan mengabarkan bahwa anak perempuannya telah berada di rumah pihak laki-laki.
Proses resmi peminangan baru resmi dimulai setelah calon mempelai perempuan setuju untuk menikah yang kemudian disusul penyerahan belis (mahar perkawinan).***

Share this article
Viral tradisi kawin tangkap di Sumba NTT yang belakangan bikin warganet geram karena dianggap memaksa.