AYOJAKARTA.COM -- Teka-teki garis keturunan Gus Miftah menjadi pembahasan ramai saat ini seiring dengan kontroversi sang pendakwah.
Beberapa waktu lalu, akibat tindakannya yang mengucapkan kata kasar kepada penjual es teh, Gus Miftah jadi topik berita viral.
Belakangan bahkan disebut jika pria dengan nama lengkap Miftah Maulana Habiburrahman itu bukanlah keturunan kiai.
Padahal Gus Miftah sebelumnya mengeklaim jika dirinya ialah keturunan Kiai Ageng Besari.
Sangkaan itu lantas dibantah Raden Kunto Pramono, penasihah Yayasan Ki Ageng Muhammad Besari.
Raden Kunto juga keturunan kedelapan pendiri Pesantren Tegalsari, Jetis, Ponorogo tersebut.
Baca Juga: Gus Miftah Disebut Bukan Keturunan Kiai, Panggilan 'Gus'-nya Tidak Sah?
"Gus Miftah dalam silsilah tidak ada. Saya mengharapkan kalau memang dari Kiai Ageng Muhammad Ilyas, dari istri berapa, nanti akan ketemu. Saya cek. Kok nggak ada. Masih merasa ada keraguan," paparnya dikutip dari suara.com.
Bahkan Tajib yang mengaku sebagai adik kandung Gus Miftah pun menyebut jika orang tua kakanya berprofesi sebagai pedagang dan petani, bukan kiai.
Jika memang bukan keturunan kiai, lantas bagaimana dengan panggilan 'Gus' yang ia terima?
Berdasarkan keterangan resmi dari situs NU Online, panggilan ‘Gus’ dalam Nahdlatul Ulama merupakan panggilan yang Istimewa, khususnya di daerah Jawa yang sering diperuntukkan bagi putra seorang kiai.
Di daerah lain juga ada tradisi panggilan spesial kepada anak kiai seperti ‘lora’, ‘ajengan’, ‘buya’, ‘anre’, atau ‘aang’.
Baca Juga: Gak Ada Takutnya! Timnas Indonesia Tetap Santai dengan Pemain Muda untuk Lawan Laos
Dalam buku Baoesastra Djawa yang ditulis Poerwadarminta, kata ‘Gus’ berasal dari kata Bagus. Awal mula panggilan ‘Gus’ ini berasal dari tradisi keraton yang memanggil putra raja yang masih kecil dengan penggilan Raden Bagus yang disingkat Den Bagus.
Sementara dalam sebuah Jurnal berjudul Makna Sapaan di Pesantren: Kajian Linguistik-Antropologis yang ditulis Millatuz Zakiyah (2018) disebutkan bahwa seiring berjalannya waktu, putra kiai disapa ‘Gus’ tidak terbatas oleh umur. Panggilan Gus tetap disematkan walau putra kiai tersebut sudah tidak kecil lagi.
Panggilan ‘Gus’ juga melebar dan digunakan sebagai simbol ketokohan seseorang dari sisi agama. Walau bukan anak kiai, seseorang yang mendalam pemahaman agamanya juga bisa saja dipanggil ‘Gus’.
Jadi, panggilan ‘Gus’ berdasarkan kajian sosiologis bisa didapat secara alami (ascribed status) yang disebabkan faktor keturunan dan melalui proses perjuangan serta pengorbanan (achieved status).
Ada kemungkinan panggilan 'Gus' yang didapat Gus Miftah bukanlah dari garis keturunan di atasnya, melainkan diberikan sebagai pengakuaan dari orang lain ataupun para pengikutnya.

Share this article
Teka-teki garis keturunan Gus Miftah menjadi pembahasan ramai saat ini seiring dengan kontroversi sang pendakwah.