AYOJAKARTA.COM – Bakal calon presiden dari Koalisi Perubahan, Anies Baswedan mengungkapkan beberapa janji manis jika nanti terpilih menjadi presiden dalam Pilpres 2024.
Mantan Gubernur DKI Jakarta ini menyebut bahwa angka kemiskinan di Indonesia saat ini berkisar 9-10 persen.
Maka dari itu Anies Baswedan menjanjikan upaya pengentasan kemiskinan. Dirinya mengumbar janji bisa menurunkan angka kemiskinan 4-5 persen.
Selain itu untuk angka kemiskinan ekstrem, bakal capres Koalisi Perubahan menjanjikan akan nol persen pada tahun 2029.
Baca Juga: Wajib Tau! Ini Daftar Lengkap Produk Pro Israel yang Diharamkan MUI, Umat Islam Harus Berhati-hati
Hal ini disampaikan saat sesi tanya jawab di acara Sarasehan 100 Ekonom Indonesia yang digelar Indef di Jakarta Selatan.
“Angka kemiskinan berkisar 9-10 persen, kita ingin target di 2029 itu antara 4-5 persen. Harapannya kemiskinan ekstrem bisa 0 persen,” ujar Anies Baswedan dikutip AyoJakarta.com dari laman Republika, Minggu (12/11/2023).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), angka kemiskinan di Indonesia per bulan Maret 2023 masih sekitar 9,36 persen atau sebanyak 25,90 juta orang.
Sedangkan angka kemiskinan ekstrem per bulan Maret 2023 telah turun menjadi 1,12 persen dari sebelumnya di bulan Maret 2022 sekitar 2,04 persen.
Untuk mengatasi kemiskinan di Indonesia, Anies Baswedan berjanji memastikan biaya hidup masyarakat bisa terjangkau.
Hal ini dapat tercapai jika Indonesia bisa memastikan suplai pangan dengan harga murah, menurutnya bisa efektif dengan operasi pasar dan transparansi informasi harga di pasar.
Mantan Gubernur DKI Jakarta ini menyampaikan bahwa dengan adanya transparansi informasi harga maka pedagang bisa mengetahui selisih harga antara satu pasar dengan pasar lainnya.
Baca Juga: Jubir TPN Ganjar-Mahfud Ungkap Dugaan Kepolisian Memberi Arahan untuk Menangkan Prabowo-Gibran
“Yang kami lakukan adalah mengefisiensikan pasar pangan ini. Kami tidak melakukan intervensi harga tetapi membuat transparansi atas pasar,” ujarnya.
Terkait dengan program bantuan sosial (bansos) yang telah diterapkan di masa pemerintahan Presiden Joko Widodo untuk mengatasi kemiskinan di Indonesia.
Anies Baswedan mengungkapkan langkah pemerintah memberikan bansos kepada masyarakat belum bisa menangani solusi dalam mengatasi kemiskinan.
Kendati demikian dirinya mengaku tetap akan melanjutkan program yang ada seperti BLT untuk jangka pendek, namun lama-lama akan dikurangi.
“Tetapi jangka pendeknya itu tetap harus diteruskan dulu. Karena itu (longterm) belum ada sekarang. Jadi BLT, jaminan sosial hari ini sebagai short term tetap diteruskan,” kata Anies Baswedan.
Sambil kuenya diperbesar lalu inclusion itu dilakukan sehingga makin sedikit yang mendapatkan redistributif revenue,” lanjutnya.
Menurutnya mengatasi kemiskinan harus dengan solusi jangka panjang dengan menyertakan mekanisme pasar.
Baca Juga: Terungkap! Alasan MUI Keluarkan Fatwa Boikot Produk Pro Israel, Singgung Kemanusiaan?
Bakal capres dari Koalisi Perubahan ini menuturkan bahwa untuk bisa mengentaskan kemiskinan tidak cukup redristributif saja.
Jadi ada dua janji yang ditawarkan oleh Anies Baswedan untuk mengatasi kemiskinan di Indonesia.
Yang pertama mengatasi kemiskinan jangka pendek dengan redistributif dengan mengambil pajak dan memberikan dalam bentuk subsidi kepada masyarakat.
Kemudian jangka panjang dengan mekanisme pasar yang baik, sebagai tempat sumber daya masuk, tenaga kerja, modal, teknologi, dan porsi lainnya untuk untuk bisa mengatasi kemiskinan.
“Jangka pendek kita melakukan redistribusi dengan cara ambil itu pajaknya lalu berikan dalam bentuk subsidi-subsidi kepada mereka, itu sesungguhnya shortterm solution,” ungkap Anies Baswedan.
“Longterm solution-nya adalah inclusion to market, kalau itu terjadi maka tenaga kerjanya meluas, mereka yang asalnya hidup dari bantuan berubah menjadi hidup dari income,” lanjutnya.***

Share this article
Maka dari itu Anies Baswedan menjanjikan upaya pengentasan kemiskinan. Dirinya mengumbar janji bisa menurunkan angka kemiskinan 4-5 persen.