AYOJAKARTA.COM – Pernahkah Anda menerima laporan kartu kredit dan terkejut dengan jumlah utangnya?
Terlebih ketika menemukan beberapa pembelian yang tidak diperlukan bahkan sudah terlupakan.
Bisa jadi kala itu Anda sedang mengalami impulse buying.
Sekali melakukan impulse buying mungkin bukan masalah besar, tetapi bila dilakukan berulang kali maka bisa menyebabkan tekanan finansial.
Berikut adalah informasi terkait impulse buying, yang dikutip AyoJakarta dari CapitalOne, Kamis (14/9/2023).
Baca Juga: Fitur WhatsApp Terbaru Ini Disebut Mirip dengan Telegram, Bisa Udpate Berita Terbaru?
Definisi impulse buying
Lantas apa perbedaan antara pembelian biasa dan pembelian impulsif atau impulse buying?
Menurut Consumer Financial Protection Bureau (CFPB), pembelian impulsif biasanya tidak direncanakan dan dapat menyebabkan seseorang mengeluarkan uang lebih dari kemampuan mereka.
Sedangkan kebutuhan adalah sesuatu yang seseorang tidak dapat hidup tanpanya, seperti makanan dan tempat tinggal.
Di sisi lain, keinginan adalah sesuatu yang mungkin Anda inginkan tetapi tanpanya Anda tentu dapat tetap hidup.
Tidak semua keinginan merupakan pembelian impulsif, keinginan dapat direncanakan dan dianggarkan.
Alasan mengapa siklus pembelian impulsif atau impulse buying bisa terjadi :
Penelitian menunjukkan bahwa antara 40% dan 80% pembelian bersifat impulsif. Namun jika dibiasakan, kebiasaan belanja ini bisa berdampak pada buruk bagi keuangan.
Baca Juga: 4 Jurusan Kuliah Terbaik yang Berpeluang Besar Lolos CPNS 2023, Apakah Jurusanmu Termasuk?
Lantas apa saja alasan seseorang melakukan impulse buying?
1. Keadaan emosional
Banyak perasaan yang dapat memicu pembelian impulsif, seperti rasa takut, lapar, bosan, dan iri hati.
Pengeluaran emosional bahkan bisa lebih banyak terjadi saat ada kondisi nasional tertentu.
Seperti yang terjadi pada saat pandemi kemarin, dimana banyak orang belanja hanya karena takut kehabisan.
2. Gratifikasi instan
Psikolog menggunakan istilah “bias masa kini” untuk menjelaskan apa yang terjadi di balik kepuasan instan.
Hal ini menggambarkan kecenderungan untuk memilih keuntungan lebih kecil saat ini, dibandingkan keuntungan yang lebih besar di masa depan.
Ketika seseorang secara impulsif mampir ke restoran cepat saji hanya untuk membeli kopi seharga 50 ribu karena hari yang buruk, itu mungkin disebut kepuasan instan.
Baca Juga: Fitur WhatsApp Terbaru Ini Disebut Mirip dengan Telegram, Bisa Udpate Berita Terbaru?
3. Iklan
Iklan ditujukan untuk membuat pembeli membelanjakan lebih banyak uang secara impulsif.
40% orang membelanjakan lebih banyak dari yang mereka rencanakan saat berbelanja di toko offline, dibandingkan dengan 25% orang yang mengeluarkan uang lebih banyak secara online.
Taktik periklanan dapat mencakup kesepakatan dan promosi, penempatan produk dan rangsangan seperti lingkungan toko dan layanan penjualan yang mempengaruhi pelanggan.
4. Loyalitas merek
Produsen mobil, perusahaan teknologi, dan perancang pakaian seringkali terkenal dengan pelanggan tetapnya.
Banyak pelanggan yakin bahwa merek mobil tersebut adalah yang terbaik untuk dibeli, atau sudah tidak sabar menunggu model smartphone terbarunya keluar, Itulah loyalitas merek.
Dan hal ini mungkin berdampak pada seberapa cepat seseorang membeli produk suatu merek setelah produk tersebut dipasarkan.
Baca Juga: Mengenal Kepribadian Seseorang dari 6 Bentuk Telinga, Telinga Berbentuk Bulat Aset Negara!
Bagaimana menghentikan pembelian impulse buying?
Orang dengan kebiasaan belanja impulsif mungkin ingin berhenti, tetapi tidak tahu harus mulai dari mana, berikut cara yang bisa dilakukan:
1. Pertahankan anggaran
Identifikasi dari mana uang Anda berasal, termasuk pendapatan apa pun, ditambah tunjangan atau dukungan finansial.
Catat semua pengeluaran. Langkah ini penting untuk membatasi pembelian impulsif karena setiap kali pembelian dilakukan, akan tercatat.
Catat semua tagihan dan kapan jatuh temponya, sehingga Anda dapat membayarnya tepat waktu.
2. Buat rencana tabungan
Mengelola pendapatan dan pengeluaran seringkali merupakan bagian pertama dari penganggaran.
Namun menetapkan tujuan tabungan tidak kalah penting.
Semakin besar tujuan tabungan, semakin kecil peluang untuk melakukan pembelian impulsif.
Alih-alih menggesek kartu kredit untuk mendapatkan kepuasan instan, seseorang mungkin membayangkan biaya kuliah, rumah, atau dana darurat yang mereka tabung.
Baca Juga: Tes Kepribadian Berdasarkan Minuman Favorit! Teh atau Kopi? Jawaban di Sini
3. Buatlah daftar belanjaan
Cara sederhana untuk mulai menabung adalah dengan membuat daftar sebelum berbelanja, dengan begitu pembelian yang dilakukan hanya sesuai dengan anggaran.
4. Bayar dengan uang tunai
Membawa dan membayar dengan uang tunai dapat membantu membatasi pengeluaran, dibandingkan membayar dengan kartu kredit atau debit.
Ini adalah trik praktis bagi orang-orang yang sedang mempelajari cara mengendalikan pembelian mereka.
5. Ajukan pertanyaan-pertanyaan ini sebelum membeli
Sebelum mengeluarkan dompet, ada baiknya Anda bertanya pada diri sendiri beberapa pertanyaan ini:
Apakah ada item di keranjang yang merupakan pembelian tidak direncanakan?
Apakah barang ini suatu kebutuhan atau keinginan?
Emosi apa yang mempengaruhi keinginan saya terhadap barang ini?
Bisakah saya kembali untuk membeli item ini dalam 24 jam atau lebih lambat?
Berapa lama saya harus bekerja atau menabung untuk membeli barang ini?
Dengan mengambil jeda sebelum melakukan pembelian, pembeli dapat menghindari kebiasaan belanja yang tidak diinginkan.***

Share this article
Apa itu impulse buying? Fenomena belanja karena impulsif sementara, begini cara berhenti dari tindakan tersebut