AYOJAKARTA.COM - W. Keith Campbell, profesor psikologi dari University of Georgia's Franklin College of Arts and Sciences, dalam kuliahnya di kanal Youtube Ted-Ed menyatakan bahwa jauh sebelum era selfie, orang-orang Yunani dan Romawi kuno mempunyai mitos tentang seorang pria yang sangat terpikat dengan bayangan dirinya sendiri.
Narcissus, seorang pemuda tampan, mengembara dunia untuk mencari seseorang untuk dicintai.
Setelah menolak bidadari Echo, dia melihat sekilas bayangannya sendiri di sungai dan jatuh cinta padanya.
Tidak dapat menarik diri, Narcissus tenggelam, dan sekuntum bunga yang dinamai menurut namanya menandai tempat kematiannya.
Mitos ini merangkum esensi narsisme: cinta diri dan keterlibatan diri yang berlebihan.
Di zaman modern, narsisme lebih dari sekadar kisah atau keunikan kepribadian yang dibahas di media.
Psikolog mengklasifikasikan dan mempelajarinya sebagai serangkaian ciri yang ditandai dengan citra diri yang berlebihan dan muluk-muluk.
Orang narsisis sering kali percaya bahwa mereka lebih menarik, cerdas, dan penting dibandingkan orang lain dan merasa berhak mendapat perlakuan khusus.
Psikolog mengidentifikasi dua bentuk utama narsisme: muluk dan rentan.
Narsisme muluk adalah tipe yang paling terkenal, ditandai dengan ekstroversi, dominasi, dan keinginan akan perhatian.
Orang dengan narsisme yang berlebihan sering kali mencari kekuasaan dan perhatian, terkadang menjadi politisi, selebriti, atau pemimpin budaya.
Namun, tidak semua orang dalam posisi ini narsistik; banyak yang menjalankan peran ini untuk mencapai potensi penuh mereka atau untuk membantu orang lain.
Baca Juga: 14 Kampus Negeri dan Swasta Miliki Jurusan Kedokteran Akreditasi Unggul di Indonesia, Cek Daftarnya!
Di sisi lain, orang narsisis yang rentan biasanya pendiam dan pendiam.
Mereka mempunyai rasa berhak yang kuat namun mudah diancam atau diremehkan. Kedua bentuk narsisme tersebut memiliki sisi gelap, terutama seiring berjalannya waktu.
Orang narsisis sering kali bertindak egois, yang dapat mengarah pada keputusan berisiko atau tidak etis dari pemimpin narsistik dan perilaku tidak jujur atau tidak setia pada pasangan narsistik.
Ketika citra diri mereka ditantang, mereka bisa menjadi kesal dan agresif, sehingga menyebabkan penderitaan bagi orang-orang di sekitar mereka.
Perilaku narsistik ekstrem diklasifikasikan sebagai gangguan psikologis yang dikenal sebagai gangguan kepribadian narsistik (NPD), yang mempengaruhi 1 hingga 2 persen populasi, terutama orang dewasa.
NPD melibatkan ciri-ciri seperti pandangan berlebihan terhadap diri sendiri, masalah empati, rasa berhak, dan kebutuhan akan kekaguman.
Baca Juga: 14 Kampus Negeri dan Swasta Miliki Jurusan Kedokteran Akreditasi Unggul di Indonesia, Cek Daftarnya!
Ciri-ciri ini mendominasi kehidupan penderita NPD, yang menyebabkan masalah pribadi dan relasional yang signifikan.
Penyebab narsisme mencakup faktor genetik dan lingkungan. Penelitian pada kembar menunjukkan adanya komponen genetik yang kuat, meskipun gen spesifiknya tidak diketahui.
Secara lingkungan, orang tua yang terlalu memuji anak-anaknya dapat menumbuhkan narsisme yang berlebihan, sedangkan orang tua yang dingin dan suka mengontrol dapat menyebabkan rentannya narsisme.
Budaya yang menekankan individualitas dan promosi diri, seperti Amerika Serikat, juga mempunyai tingkat narsisme yang lebih tinggi.
Media sosial, meski bukan penyebab langsung, menyediakan platform bagi orang narsisis untuk mencari perhatian dan status.
Meningkatkan sifat narsistik adalah mungkin, meskipun menantang. Terapi dan praktik yang mendorong refleksi diri dan kasih sayang dapat membantu.
Namun, upaya yang gigih diperlukan karena refleksi diri bisa jadi sangat sulit bagi mereka yang memiliki kecenderungan narsistik.***
Baca Juga: 6 PTN Jurusan Psikologi Terakreditasi A dan Unggul di Indonesia, Ada Kampus dari Luar Pulau Jawa

Share this article
Mengetahui mitos kuno dan psikologi modern mengenai narsisme, apakah kamu sudah mengetahuinya? Simak ulasannya berikut.