AYOJAKARTA.COM - Ada satu tanda trauma yang jarang sekali dibahas dan diketahui oleh kebanyakan orang, yakni intensitas kesenangan.
Kamu mungkin pernah menonton tayangan reality show yang menampilkan sosok selebriti yang senangnya luar biasa saat diberi hadiah yang mungkin biasa-biasa saja.
Banyak orang yang melabelinya dengan lebay, berlebihan, atau apa pun label negatif lainnya.
Padahal, bisa jadi itu adalah tanda trauma: intensitas kesenangan.
Sesuatu yang biasa saja bagi kebanyakan orang, dianggapnya sebagai kesenangan yang luar biasa.
Dilansir dari akun TikTok @jiemiardian, psikiater Jiemi menyebutkan bahwa intensitas kesenangan adalah salah satu tanda trauma.
Ketika seseorang mengalami trauma tertentu, maka beberapa hal yang mungkin netral bagi orang lain itu bisa terasa sangat menyenangkan untuknya.
Baca Juga: Tips Psikologi Menjadi Bahagia, 6 Perubahan Kecil Ini Akan Membuat Hidupmu Lebih Baik
Misalnya, sensasi mabuk alkohol sebenarnya biasa saja. Tapi bagi beberapa orang itu enak luar biasa.
Ini mirip sensasi disosiasi atau kayak kita tidak berada di sini, dan itu sangat menyenangkan. Disosiasi adalah gejala trauma.
Atau beberapa orang ketika dipuji sama pasangannya, “Aduh kamu cantik banget,” rasanya senangnya bukan main.
Yang pada beberapa kasus bisa saja itu adalah apa yang kita butuhkan, apa yang kita harapkan pada saat kita kecil tapi tidak kita dapatkan.
Mungkin ada pengabaian, mungkin ada kekerasan di sana, makanya rasanya butuh sekali untuk dicintai seperti itu.
Baca Juga: Inilah Tren Politik yang Diprediksi akan Mewarnai Pelaksanaan Pilkada 2024
Intensitas kesenangan menjadi sangat tinggi pada komponen-komponen yang mungkin dulunya kita bermasalah.
***

Share this article
Ada satu tanda trauma yang jarang sekali dibahas dan diketahui oleh kebanyakan orang, yakni intensitas kesenangan.