AYOJAKARTA.COM — Brain rot atau sering disetarakan dengan istilah pembusukan otak semakin menjadi salah satu fenomena yang muncul akibat candu medsos.
Demi memenuhi kebutuhan dopamine, brain rot terjadi sebagai akibat pengguna medsos terlalu banyak menghabiskan waktu untuk mengkonsumsi konten nir edukasi.
Akibat dosis berlebihan dan jarang disadari, pengguna medsos banyak kehilangan waktu untuk menjadi produktif sehingga menyebabkan pembusukan otak atau brain rot.
Kecenderungan membiasakan diri sebagai penonton dari beragam jenis hiburan atau peristiwa, juga membuat pengguna medsos lupa akan peran sebagai aktor kehidupan.
Baca Juga: Strategi Ampuh Agar KPR BRI Disetujui dengan Mudah
Dalam sejumlah literasi pengembangan diri, istilah pembusukan otak juga sering disebut sebagai dampak dari munculnya fenomena budak agoritma.
Meski lebih sering disangkal, tidak sedikit pengguna medsos yang merasa menyesal karena gagal memberikan kesempatan kepada diri untuk berkembang atau berlaku produktif.
Dengan alasan sebatas mencari hiburan atau peregangan dari berbagai persoalan hidup, mengkonsumsi secara berlebih konten nir edukasi dianggap sebagai jalan keluar.
Bukan pemulihan atau kelapangan pikiran, dampak mengkonsumsi konten hingga berlama-lama justru membuat perasaan dengan pikiran menjadi kurang sejalan.
Akumulasi dari suasana dalam diri yang kurang dipahami, membuat banyak pengguna medsos mudah terpicu untuk melampiaskan emosi kepada selain dirinya.
Faktanya setiap jenis tayangan video atau berita yang tersaji di medsos termasuk yang saat ini sedang dibaca, hanya bersifat pilihan.
Sebagaimana saat berada di sebuah jamuan pernikahan atau rumah makan, keputusan untuk mengkonsumsi jenis hidangan yang tersaji berada di kendali masing-masing orang.
Kemampuan untuk memilah jenis menu atau konten yang sehat serta sesuai kebutuhan, dapat membuat individu terlepas dari cengkeraman budak agoritma.
Baca Juga: Optimalkan Penyaluran Bansos Februari 2025, Kemensos Bagikan Strategi agar Tepat Sasaran
Menyadari bahwa untuk dapat mengendalikan diri diperlukan lebih banyak keheningan dan perenungan, akan membuat siapapun terhindari dari ancaman pembusukan otak.
Tanpa adanya pembusukan pada bagian otak, bukan hanya produktivitas positif yang akan dirasakan tetapi juga kesempatan menjadi lebih percaya diri.
Bukan berarti seseorang harus bersikap anti sosmed, mencegah terjadinya brain rot atau pembusukan otak berarti memilah jenis konten yang akan dikonsumsi.
Semakin banyak dan sering jenis konten tertentu dimasukan dalam pikiran, akan membawa pengaruh bagi siapapun untuk lebih memahami kebutuhan sebagai manusia.
Baca Juga: Mau Lolos SNBP 2025? Siswa Wajib Tahu 3 Strategi Jitu Penempatan Jurusan Pilihan 1 dan 2 Ini
Untuk terlepas dari perangkap konten atau menu yang merusak pikiran, pastikan terlebih dahulu menyadari kebutuhan serta tujuan peran sebagai individu.
Dengan menyadari apa yang dibutuhkan, dampak terjadinya pembusukan otak atau brain rot karena salah konsumsi menu alias konten akan terhindari.***
Share this article
Brain rot atau sering disetarakan dengan istilah pembusukan otak semakin menjadi salah satu fenomena yang muncul akibat candu medsos.