AYOJAKARTA.COM - Bagi hampir setiap masyarakat di wilayah Nusantara, momen Idul Fitri tidak pernah lepas dari tradisi makan-makan.
Selain menyajikan berbagai jenis kue-kue khas, perayaan makan-makan saat Idul Fitri juga kerap dipenuhi dengan beragam pilihan kuliner yang mengandung kolesterol.
Karena potensi dan dampak buruk kolesterol bagi kesehatan, tidak sedikit masyarakat yang justru menahan diri dari tradisi makan-makan saat Idul Fitri.
Berbagai variasi makanan rasa manis dominan atau potongan daging yang dibanjiri dengan kuah santan serta berlemak, memang sukar untuk ditolak.
Baca Juga: Dianggap Kurang Wajar! Penyebab Loncatan Pangkat Mayor Teddy Menjadi Letkol Jadi Sorotan Warganet
Sehingga salah satu upaya untuk tetap bisa menyeimbangkan kondisi kesehatan usai Idul Fitri, adalah dengan melakukan tes kesehatan.
Menurut dr. Agustinus Taolin, SpPD-KGEH yang merupakan Spesialis Penyakit Dalam, dalam jumlah tertentu kolesterol merupakan senyawa penting bagi tubuh.
Selain untuk membentuk hormon, kolesterol juga berperan besar dalam membuat sel yang memang sangat ditubuhkan bagi tubuh.
Salah satu alasan yang banyak ditakutkan masyarakat mengenai kolesterol adalah karena dapat menyumbat pembuluh darah serta menyebabkan hipertensi.
Baca Juga: Dahsyatnya Pahala Puasa Syawal 6 Hari, Begini Cara Niat dan Keutamaan yang Jangan sampai Dilewatkan
Dampak terjadinya penyumbatan pada pembuluh darah yang disebabkan oleh kolesterol, juga berpotensi menyebabkan serangan jantung serta hipertensi.
Karena itu melalui proses puasa, berbagai jenis resiko kesehatan yang disebabkan oleh peningkatan kolesterol dapat menghindarkan seseorang dari berbagai penyakit.
Terkait dengan dampak terlalu banyak mengkonsumsi makanan bersantan, dr. Agustinus juga memberikan penjelasan.
“Makanan bersantan itu mengandung lemak jenuh yang tidak baik untuk kesehatan, dan kolesterol sangat tinggi pada lemak jenuh,” ungkapnya.
Berdasarkan pada fakta medis mengenai kolesterol tersebut, dr. Agustinus menyarankan batas maksimum bagi siapapun dalam mengkonsumsi makanan lemak jenuh.
Untuk menjaga agar kesehatan tetap prima dan bugar, ambang batas dalam mengkonsumsi lemak jenuh tidak lebih dari 6 persen dari total kalori harian.
“Kalau kita makan kalori sekitar 2000, artinya dalam sehari kita boleh makan lemak sekitar 100 kalori, dari total kalori harian,” terangnya.
Selain diperoleh dari lemak jenuh, peningkatan kadar kolesterol dalam tubuh juga dapat disebabkan karena jumlah makanan atau minuman manis berlebih.
Baca Juga: Sepi Auto Nyaman, 7 Tempat Wisata Jakarta Wajib Dikunjungi Libur Lebaran 2025
Hasil dari pemrosesan dan metabolisme kandungan gula dalam hati, menurut dr. Agustinus akan menghasilkan Trigliserin yang dapat meningkatkan lemak dalam darah.
Untuk tetap sehat maksimal setelah Idul Fitri, dr. Agustinus menyarankan agar konsumsi daging berwarna merah serta gula dibatasi serta hidup sesuai kebutuhan nutrisi. ***

Share this article
Dokter Spesialis Penyakit Dalam ungkap tips agar kesehatan tetap prima pasca Lebaran, terhindar dari kolesterol.