AYOJAKARTA.COM – Seiring kekhawatiran pasien diabetes terhadap konsumsi obat jangka panjang, Dr.dr. Hans Tandra, Sp.PD-KEMD, Ph.D, FINASIM, FACE, FACP memaparkan berbagai jenis terapi dan efek samping yang perlu diwaspadai.
Dalam penjelasannya, dia menegaskan bahwa tujuan utama pengobatan diabetes bukan sekadar menurunkan kadar gula.
Akan tetapi juga mengendalikan supaya kadar gula darah dalam tubuh penderita diabetes bagus terus setiap hari.
"Mengendalikan supaya tiap saat tiap detik tiap menit itu tiap hari tiap minggu itu bagus terus. Itu namanya dikendalikan, bukan hanya turun tapi turun tapi terus bagus,” jelas sang health motivator, dikutip dari tayangan YouTube Good Talk TV, Jumat, 18 April 2025.
Ia juga menambahkan, bahwa obat diabetes tersedia dalam bentuk tablet maupun suntikan.
Baca Juga: Bikin Gula Darah Naik Drastis, Berikut 4 Jenis Sayur Berbahaya Bagi Penderita Diabetes
Pilihan Suntikan Insulin
– Short‑acting (3–5 jam): Suntik sebelum makan untuk menangani lonjakan gula pasca-prandial.
– Intermediate‑acting (±12 jam): Diberikan dua kali sehari untuk efek “setengah hari.”
– Long‑acting (24 jam): Suntik sekali sehari sebagai baseline, lalu dipadu short‑acting saat makan.
Praktisi kesehatan ini mengingatkan, pasien harus menyuntikkan sesuai dengan besaran gula darah yang diderita, tidak boleh sembarangan.
Mengingat, kadar gula darah dapat berubah-ubah karena dipengaruhi oleh pola makan dan gaya hidup.
“Nyuntiknya itu harus berdasarkan gulanya berapa, gak boleh sembarang main,” lanjutnya.
Baca Juga: Waspada! 4 Jenis Sayuran Ini Berisiko Memicu Lonjakan Gula Darah pada Penderita Diabetes
Penggunaan Jenis Tablet dan Mekanismenya
Ia menjelaskan, ada tablet yang merangsang pankreas memproduksi insulin dengan cepat.
Risiko utama dari tablet ini membuat gula darah bisa “nge-drop” hingga hipoglikemia.
Sebaliknya, obat golongan SGLT2 bekerja lewat ginjal untuk mengeluarkan gula lewat ginjal, bahkan membantu menurunkan berat badan.
Obat lain menstimulasi hormon usus agar insulin lebih sensitif, namun beberapa dapat menimbulkan gangguan lambung seperti mual, muntah, atau diare.
Baca Juga: Hati-hati Diabetes! Ini 9 Gejala pada Kulit saat Gula Darah Tinggi
Efek Samping Umum
Dokter Hans menekankan, bahwa setiap obat membawa risiko atau efek samping yang dapat dirasakan jelas oleh pengguna.
Selain gangguan gula darah dan berat badan, beberapa obat dapat memberi beban pada hati dan ginjal.
Oleh karena itu, ia menyarankan pengaturan terapi secara individual, seperti:
- Pilih obat sesuai jenis diabetes dan kebutuhan insulin.
- Pertimbangkan riwayat penyakit jantung, fungsi hati, atau ginjal.
- Pantau HbA1c, fungsi ginjal, jantung, serta hati secara berkala.
Baca Juga: Tak Perlu Takut Gula Darah Naik, Ini 9 Buah yang Boleh Dikonsumsi Penderita Diabetes
Pentingnya Peran Gaya Hidup
Ia kembali menegaskan, pengobatan harus berjalan seiring perbaikan gaya hidup.
“Diabetes adalah lifestyle disease (penyakit lantaran gaya hidup),” katanya.
Ia menambahkan, pasien perlu menjaga pola makan, beraktivitas fisik cukup, tidur teratur, dan menghindari rokok serta stres.
Kombinasi obat yang tepat dan disiplin gaya hidup diharapkan meminimalkan kebutuhan obat serta efek samping jangka panjang.***

Share this article
Dalam penjelasannya, Dr.dr. Hans Tandra menegaskan bahwa tujuan utama pengobatan diabetes bukan sekadar menurunkan kadar gula.