AYOJAKARTA.COM--Malam 1 Suro merupakan malam yang diyakini oleh sebagian masyarakat besar di Jawa sebagai malam yang mistis.
Pelaksanaan tradisi Malam 1 Suro 2022 akan dilakukan pada malam sebelumnya yaitu pada pasaran Jumat Legi. Ritual-ritual Jawa hingga saat ini pun masih berlaku karena mitos-mitos mistis yang beredar. Sehingga masih banyak yang mempercayai mitos yang ada.
Baca Juga: Link Nonton Film Malam Satu Suro Suzanna, Cinta Beda Alam
Pada malam 1 Suro selain banyak mitos yang dipercayai, larangan dan juga pantangan Malam 1 Suro masih berlaku hingga saat ini. Sebagian besar orang percaya, dan takut terkena sial saat melanggar pantangan-pantangan tersebut.
Malam 1 Suro dianggap sangat istimewa dalam kepercayaan Kejawen karena bulan ini dipercayai sebagai bulan kelahiran huruf Jawa.
Dalam buku misteri bulan suro perspektif Islam dijelaskan penganut Kejawen percaya bahwa bulan tersebut merupakan bulan kedatangan Aji Saka ke Pulau Jawa dan kemudian membebaskan rakyat Jawa dari cengkeraman makhluk gaib.
Baca Juga: 10 Tradisi Sambut Tahun Baru Islam 1 Muharram di Indonesia, Pawai Obor hingga Mabit di Masjid
Ada beberapa tradisi pada Malam 1 Suro ini yang dilakukan masyarakat Jawa, yakni:
- Tapa bisu
Tapa bisu adalah tradisi yang dilakukan oleh abdi dalem Keraton Yogyakarta yang digelar setiap Malam 1 Suro, sesuai penanggalan kalender Jawa.
Tapa bisu dilakukan dengan berjalan kaki mengelilingi benteng Keraton Yogyakarta di Malam 1 Suro tanpa berbicara. Tradisi mubeng beteng (keliling benteng) tanpa berbicara ini diprakarsai oleh Sultan Agung, Raja Mataram Islam pertama yang juga mencetuskan sistem penanggalan Jawa.
Dahulu kala, ritual ini dilakukan oleh para prajurit Keraton. Tidak sekadar tradisi, tapi kegiatan tersebut juga dalam rangka mengamankan lingkungan Keraton karena saat itu belum ada benteng yang mengitari lingkungan Keraton.
Sebagai tradisi, mubeng beteng tidak mengalami perubahan sejak pertama kali dilakukan. Ritual tersebut memutar dimulai dari sisi kiri atau barat Keraton, arah ini sesuai falsafah Jawa. Kiri dalam bahasa Jawa berarti kiwo, yang berarti tujuan mubeng beteng adalah ngiwake atau membuang hal-hal buruk.
Baca Juga: Ketahui 1 Muharram dan Keistimewannya, Lekat Peristiwa Bersejarah Islam!
- Naik ke Puncak Gunung Lawu di Jawa Timur
Pada Malam 1 Suro ribuan orang berbagai daerah naik ke puncak Gunung Lawu di Jawa Timur dengan berbagai tujuan. Salah satunya sebagai bentuk lelaku. Mereka berkeyakinan, dengan naik ke puncak Pringgodani dan melakukan topo broto (menyepi) di puncak keinginannya bisa terkabul. Ngalap berkah agar terkabul usahanya lancar, naik pangkat dan jika berhasil mereka akan mengadakan selamatan.
- Ngumbah Keris / Jamasan Pusaka
Jamasan pusaka atau ngumbah keris (mencuci keris) dilakukan dalam rangka merawat dan melestarikan warisan serta kenang-kenangan para leluhur yang merupa berbagai wujud. Pusaka merupakan hasil karya dalam bidang seni dan keterampilan yang diyakini mempunyai kesaktian. Jamasan pusaka dilakukan dengan memandikan pusaka dengan cairan tertentu.
Baca Juga: 3 Larangan Malam 1 Suro Menurut Kepercayaan Adat Jawa, Simak Baik-baik Ya
- Larung Sesaji
Larung sesaji merupakan ritual sedekah alam yang dilakukan dengan cara melarung berbagai bahan ke laut, gunung, atau tempat-tempat tertentu yang dianggap memiliki “kesakralan”. Secara makna spiritual, tradisi ini dianggap sebagai salah “kesadaran kosmos”, yaitu penghargaan manusia terhadap alam. Atau yang berarti ungkapan terima kasih kita kepada alam yang telah memberi manusia penghidupan
- Ruwatan
Ruwatan dalam arti yang sebenarnya berarti pembersihan dari semua kesalahan dan dosa yang dilakukan. Ritual ini berasal dari budaya kuno jaman Jawa kuno yaitu ritual pemurnian jiwa.
Ruwatan biasanya digelar secara masif dengan menggelar pertunjukan wayang kulit yang ceritanya sudah diatur khusus untuk pelaksanaan ruwat, seperti Baratayuda, Sudamala, dan Kunjarakarna. Kemudian diminum atau diperciki air dari sumur tertentu yang telah diberkati dengan doa oleh seorang kyai. Terakhir, potong sedikit rambut orang dan seremonial membuang rambut ke sungai.
Baca Juga: 3 Mitos Satu Suro yang Masih Banyak di Percaya oleh Kelompok Masyarakat, Jika Melakukan Akan Sial
Masyarakat Kejawen meyakini bahwa musibah dan bencana dapat ditolak dengan cara melakukan ritual tertentu di bulan Suro. Karena itulah kemudian dikenal beberapa tradisi malam satu suro seperti ruwatan untuk buang sial.
- Tirakatan
Tirakatan adalah menahan hawa nafsu (seperti berpuasa, berpantang) dan beberapa orang mengasingkan diri ke tempat yang sunyi seperti di gunung. Ada juga yang tidak tidur semalam suntuk dengan tuguran (perenungan diri sambil berdoa).
Ritual Tirakatan diisi dengan berbagai kegiatan menyendiri seperti wirid. Bagi seseorang yang masih memegang teguh tradisi Jawa, Ritual Malam 1 Suro yang satu ini wajib dilakukan.
- Kungkum
Kungkum adalah tradisi bersemedi sambil terendam air, biasanya di sungai atau danau. Ini dilakukan agar bisa introspeksi diri. Ada sebagian orang yang lebih memilih menyendiri di tempat yang sepi dan sejuk seperti sungai untuk mulai memikirkan kesalahan apa yang telah mereka lakukan selama ini, dan bagaimana menjalani hidup.
Baca Juga: Nonton KKN di Desa Penari Full Movie Pakai Google Drive Disney Plus 2022, Klik di Sini !
- Pawai Obor Malam 1 Suro
Pawai obor biasa diikuti berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa dan sesepuh di tempat tradisi itu digelar. Seperti namanya, pawai obor digelar dengan membawa obor dan berjalan mengelilingi lingkungan tempat mereka tinggal.
Pawai biasa dimulai selepas shalat Isya, mereka yang mengikuti pawai akan berkumpul di lapangan. Keriuhan rombongan pawai ini akan menarik perhatian warga yang menonton di pinggir jalan. Tidak hanya berpawai, warga juga menghias halaman rumah mereka untuk menyambut pergantian tahun ini.
- Kirab kebo bule
Keraton Surakarta Hadiningrat juga kerap melakukan ritual 1 Suro. Salah satu ritual yang terkenal di tempat ini adalah Kirab Kebo Bule. Sesuai dengan namanya, Kirab Kebo Bule melibatkan kerbau di dalamnya. Nantinya sejumlah kebo bule yang dipercaya keturunan Kyai Slamet akan berjalan sambil mengawal pusaka keraton. Tujuannya adalah memohon berkah dan keselamatan.
Baca Juga: Sinopsis Film Horror Ivanna, Cerita Berdasarkan Kisah Nyata Tentang Seorang Noni Belanda
Mengapa kerbau? Karena merupakan refleksi dari apa yang dilakukan oleh Paku Buwono II pada 1725, yang tengah mencari lokasi untuk keraton Surakarta yang baru. Ketika itu, ia melepaskan kebo-kebo bule, dan para abdi dalem keraton mengikuti kerbau tersebut hingga berhenti di lokasi Keraton Kasunanan Surakarta yang sekarang.
Di Indonesia, memang ada berbagai banyak cara yang dilakukan untuk memperingati 1 Muharam atau 1 Suro, tradisi lainnya adalah Berdoa dan menyantuni anak yatim. Keberagaman tradisi itu merupakan kekayaan budaya yang dimiliki Indonesia dan masih digenggam erat oleh masyarakat dalam memperingati Malam Satu Suro ini. Hanya saja, hal yang tak boleh dilewatkan pada Tahun Baru Islam atau 1 Muharram adalah mendekatkan diri kepada Tuhan dibanding percaya dengan mitos satu Suro.

Share this article
Malam 1 Suro merupakan malam yang diyakini mistis, ada beberapa tradisi pada Malam 1 Suro ini yang dilakukan masyarakat Jawa