JAKARTA, AYOJAKARTA.COM -- Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Daeng M Faqih menjelaskan dua penyebab utama petugas kesehatan terpapar Covid-19.
Pertama, pada saat awal virus tersebut masuk ke Indonesia, banyak petugas kesehatan kekurangan alat pelindung diri (APD).
AYO BACA : Volume Sampah di Kepulauan Seribu Juga Turun, Bahkan Hampir 50 Persen
"Banyak sekali kekurangan APD, sehingga kawan-kawan banyak yang melakukan modifikasi APD. Dari modifikasi tersebut, kita tahu bahwa tidak bisa 100 persen mencegah penularan," kata Daeng Faqih dalam sebuah acara diskusi virtual, Sabtu (18/4/2020).
Kemudian yang kedua, lanjut Daeng, petugas kesehatan tertular melalui pasien yang tidak menunjukkan gejala klinis Covid-19. Pasien tersebut datang memeriksakan dirinya ke rumah sakit dengan gejala lain. Sementara, dokter tidak mengetahui bahwa pasien tersebut ternyata positif Covid-19.
AYO BACA : Bukannya di Rumah, 4 Remaja Keluyuran Bawa Celurit, Pedang dan Parang Modifikasi
"Jadi keluhannya lain dan si pasien tidak mengerti kalau dia sudah terinfeksi. Si dokter pun tidak mengerti bahwa yang bersangkutan (pasien) sebenarnya sudah terinfeksi tanpa gejala," jelasnya.
Oleh karena itu, kata Daeng, PB IDI meminta semua dokter membatasi praktik tatap muka. Hal ini guna mengantisiapsi penularan dari pasien tanpa gejala klinis. Jika terpaksa harus tatap mula, maka Daeng meminta kepada para dokter untuk memakai APD.
"Kalau dokter terpaksa melakukan praktik tatap muka, maka semua pasien yang dihadapi baik Covid-19 maupun tidak, kita minta untuk pakai APD sesuai dengan petunjuk pencegahan penularan Covid-19," ungkapnya.
AYO BACA : Sampai Tadi Pagi, Positif COVID-19 di Jakarta 2.902 Orang

Share this article
Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Daeng M Faqih menjelaskan dua penyebab utama petugas kesehatan terpapar Covid-19.