JAKARTA TIMUR, AYOJAKARTA.COM -- Jakarta Timur tercatat sebagai kawasan perkotaan dengan jumlah balita stunting atau kekerdilan tertinggi di Provinsi DKI Jakarta pada 2019.
Berdasarkan data yang dirilis Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta pada Mei 2019, terdapat dua kategori balita kerdil, di antaranya sangat pendek total 15.657 anak balita dan pendek sebanyak 19.122 anak balita.
Wilayah Jakarta Timur menduduki posisi tertinggi balita kerdil dengan kategori sangat pendek 4.857 anak balita dan pendek sebanyak 5.628 anak balita.
"Stunting dikarenakan adanya ketidaksesuaian panjang badan berdasarkan umur dan gangguan inteligensi anak," kata Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur, Indra Setiawan, Senin (4/11/2019).
Menurut Indra, terdapat tiga alasan wilayahnya ditetapkan sebagai lokus atau genetika stunting tertinggi di Jakarta, yakni wilayah dengan populasi penduduk terbanyak di DKI, jumlah masyarakat miskin yang tinggi serta adanya kesenjangan pada panjang badan dan umur.
"Kalau lihat data nasional, DKI sebenarnya jauh di bawah rata-rata nasional, kalau tidak salah, hanya berkisar 13,7 persen dari populasi nasional," katanya.
AYO BACA : 7.210 KIA Didistribusikan di 39 Sekolah di Cakung
Indra menyebutkan, Jakarta Timur dan Kepulauan Seribu tengah disasar menjadi kawasan lokus intervensi stunting pada 2020 untuk menekan jumlah keturunan yang mengalami stunting.
"Sepekan lalu kami ada pertemuan dengan masyarakat lintas profesi di Jakarta Timur. Pak Wali Kota ingin masalah ini jadi cambuk untuk kita agar kasus stunting di Jaktim bisa ditekan sampai nol," ujarnya.
Kasus stunting, kata Indra, dipicu oleh kesadaran masyarakat terhadap pola hidup bersih dan sehat yang masih minim.
Untuk itu, pihaknya tengah mengintensifkan upaya preventif dengan memberikan edukasi pola hidup sehat kepada masyarakat.
"Kita tarik dulu ke belakang, bagaimana menangani hidup sehat remaja putri, mempersiapkan remaja sebelum disunting sebagai istri, sampai melahirkan," tuturnya.
Bahkan remaja putri tersebut memiliki bayi berusia dua tahun, akan diberikan bimbingan untuk mengantisipasi stunting.
"Faktor itu yang akan kita fokuskan agar stunting di Jaktim bisa nol," ucapnya.
Data yang dirilis Dinas Kesehatan DKI Jakarta mengenai kekurangan gizi kronis dan kekerdilan pada anak balita di DKI Jakarta.
Pada kategori sangat pendek, Jakarta Pusat ada 745 anak balita, Jakarta utara 2.279 anak balita, Jakarta Barat 3.671 anak balita, Jakarta Selatan 4.052 anak balita, Jakarta Timur 4.857 anak balita
dan di Kepulauan Seribu terdapat 53 anak balita. Total seluruhnya ada 15.657 anak balita.
Di kategori pendek, wilayah Jakarta Pusat terdapat sebanyak 967 anak balita, Jakarta utara 3.207 anak balita, Jakarta Barat 4.158 anak balita, Jakarta Selatan 4.859 anak balita, Jakarta Timur 5.628 anak balita dan di Kepulauan Seribu 303 anak balita. Total jumlahnya mencapai 19.122 anak balita.
Untuk perkembangan penurunan stunting hingga tahun 2013 terdapat 27,5 persen dari total jumlah anak balita usia 0-59 bulan, hingga tahun 2018 terdapat 17,7 persen dari total jumlah anak balita usia 0-59 bulan dan hingga tahun 2023 terdapat 7,7 persen dari total jumlah anak balita usia 0-59 bulan.
AYO BACA : Kasus Stunting Banyak Terjadi pada Keluarga Nikah Muda
Share this article
Jakarta Timur tercatat sebagai kawasan perkotaan dengan jumlah balita stunting atau kekerdilan tertinggi di Provinsi DKI Jakarta pada 2019. Berdasarkan data yang dirilis Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta pada Mei 2019, terdapat dua kategori balita kerdil, di antaranya sangat pendek total 15.657 anak balita dan pendek sebanyak 19.122 anak balita.