AYOJAKARTA.COM -- Ada mitos yang menyeruak di masyarakat yang menyebutkan bahwa bencana alam sering terjadi di akhir tahun atau bulan Desember.
Mitos ini cukup meresahkan masyarakat, apalagi bagi mereka yang hendak berlibur ke pantai yang notabene daerah rawan terjadi bencana terutama tsunami.
Menanggapi hal tersebut, BMKG memberi penjelasan dan analisa mengenai mitos bencana alam sering terjadi pada akhir tahun.
Seperti apa penjelesannya?
Baca Juga: List Sertifikat yang Tidak Boleh Disertakan untuk SNBP 2024, Apa Saja yang Tidak Diperlukan?
Sebuah riset menunjukan bahwa bencana alam di Indonesia sering terjadi saat memasuki akhir tahun.
Contohnya tsunami Flores pada 12 Desember 1992, tsunami Aceh 26 Desember 2004, tsunami Selat Sunda 22 Desember 2018, gempa Cianjur 21 November 2022 dan terakhir meletusnya Gunung Marapi di Sumatera Barat pada 3 Desember 2023.
Oleh karena itu, banyak masyarakat yang mempercayai bahwa bencana alam sering terjadi pada akhir tahun.
Kabid Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG, Dr. Daryono, S.Si., M.Si menanggapi mitos tersebut.
Daryono mengatakan bahwa bencana alam seperti gempa, tsunami maupun letusan gunung tak dipengaruhi oleh atmosfer.
"Baik tsunami maupun gempa terjadi di bawah permukaan bumi. Dari aktivitas lempeng tektonik, patahan aktif tersulut di bawah bumi dan (fenomena tersebut) tidak dipengaruhi oleh atmosferik," jelas Daryono dikutip ayojakarta.com dari YouTube Info BMKG, Kamis (28/12/2023).
Daryono menjelaskan fenomena yang diakibatkan atmosferik biasanya berhubungan dengan cuaca sepeti hujan ekstrem, banjir dan longsor.
Hal tersebut dikarenakan menjelang akhir tahun terjadi transisi dari musim kemarau ke musim penghujan, karena pada masa tersebut terjadi pergerakan semu matahari.
"Menjelang masa transisi atau musim peralihan banyak sekali fenomena atmosferik seperti hujan deras dan itu memang dikontrol oleh pergerakan semu matahari," kata Daryono.
Pergerakan semu matahari tersebut, menurut Daryono mengakibatkan penguapan permukaan laut yang intensif.
Penguapan air laut yang intensif itulah yang menjadi 'trigger' terhadap bencana alam lainnya seperti hujan ekstrem, banjir dan longsor.
Daryono membenarkan bahwa bencana alam sering terjadi di akhir tahun, namun hanya untuk bencana atmosferik saja.
Sedangkan bencana alam seperti gempa bumi dan tsunami sama sekali tak dipengaruhi atmoesfer atau pergerakan semu matahari.
Baca Juga: Ketiga Kalinya Kunjungi Sumatera Barat, Prabowo Datangi Posko Tanggap Bencana Erupsi Gunung Marapi
Oleh karena itu, Daryono menyimpulkan bahwa bencana yang diakibatkan pengaruh atmosfer seperti banjir, longsor dan hujan ekstrem memang sering terjadi di akhir tahun.
Sementara bencana alam yang diakibatkan aktivitas geologis seperti gempa, tsunami dan gunung meletus tidak terkonfirmasi sering terjadi di akhir tahun.
"Kita akan mengaitkan dengan fenomena yang sering terjadi kemudian menyimpulkan. Jadi tidak benar kalau akhir tahun itu adalah musim tsunami," pungkasnya.***

Share this article
Berikut ini penjelasan Daryono BMKG terkait benarkah bencana alam lebih sering terjadi di akhir tahun.