AYOJAKARTA.COM – Keberhasilan umat muslim dalam menjalankan ibadah puasa, salah satunya dapat dilihat dari konsistensinya dalam beribadah setelah Ramadhan.
Umat muslim dikatakan berhasil menjalankan ibadah selama bulan suci Ramadhan jika bisa istikamah melanjutkan ibadah bahkan ketika sudah masuk bulan selanjutnya yaitu Syawal.
Contohnya, umat muslim tersebut terus konsisten melanjutkan ibadah puasa enam hari saat bulan Syawal setelah selesai bulan Ramadhan.
Bahkan umat muslim yang menjalankan puasa Syawal ini akan mendapatkan pahala setara dengan puasa selama satu tahun.
Baca Juga: 6 Tips Untuk Menghadapi Teman ang Suka Mengeluh, Ajak Ngobrol Topik Lain Salah Satunya
Seperti yang tertuang dalam hadis, Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ، ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ اَلدَّهْرِ
Artinya: “Barangsiapa puasa Ramadhan, kemudian ia sertakan dengan puasa enam hari dari bulan Syawal, makai a seperti berpuasa setahun penuh.” (HR Muslim).
Membahas soal puasa Syawal ini, banyak umat muslim yang bertanya apakah puasa Syawal boleh dilakukan dengan terpisah-pisah?
Untuk mengetahui jawabannya, berikut informasi yang dikutip ayojakarta.com dari laman resmi NU Online pada Jumat (12/4/2024).
Baca Juga: Bolehkah Puasa Syawal Tidak Berurutan? Inilah Tata Cara dan Waktu Pelaksanaan Puasa Sunnah Syawal
Pertanyaan mengenai boleh tidaknya puasa Syawal ini dilakukan secara terpisah-pisah pernah ditanyakan kepada Sayyid Abdullah al-Hadrami.
Lantas dijawab oleh beliau bahwa puasa Syawal tidak harus dikerjakan atau dilakukan secara terus-menerus.
Dengan kata lain, puasa Syawal ini boleh dikerjakan secara terpisah-pisah yang terpenting semuanya dilakukan saat bulan Syawal.
Seperti yang disebutkan dalam kitabnya seperti berikut:
هَلْ يُشْتَرَطُ فَي صِيَامِ السِّتِّ مِنْ شَوَّالٍ اَلتَّوَالِي؟ اَلْجَوَابُ: اِنَّهُ لَا يُشْتَرَطُ فِيْهَا التَّوَالِي، وَيَكْفِيْكَ أَنْ تَصُوْمَ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ وَاِنْ كَانَتْ مُتَفَرِّقَةً، طَالَمَاوَقَعَتْ كُلُّهَا فِي الشَّهْرِ
Artinya: “Apakah disyaratkan dalam puasa Syawal untuk terus-menerus? Jawaban: sesungguhnya tidak disyaratkan dalam puasa Syawal untuk terus-menerus, dan cukup bagimu untuk puasa enam hari dari bulan Syawal sekalipun terpisah-pisah, sepanjang semua puasa tersebut dilakukan di dalam bulan ini (Syawal).” (Sayyid Abdullah al-Hadrami, al-Wajiz fi Ahkamis Shiyam wa Ma’ahu Fatawa Ramadhan, [Daru Hadramaut: 2011], halaman 139).
Baca Juga: Ini Dia Keutamaan dan Waktu Melaksanakan Puasa Syawal, Ternyata Bisa di Tanggal Ini
Maka, dari penjelasan tersebut dapat diketahui bahwa praktik untuk menjalankan ibadah puasa Syawal bisa dikerjakan dengan dua cara sebagai berikut:
1. Dilakukan secara terus-menerus, sebagai contoh dari tanggal 2 hingga tanggal 7 syawal tanpa henti atau berkelanjutan.
2. Dikerjakan dengan cara terpisah sebagai contoh misalnya berpuasa pada tanggal 2 Syawal kemudian besoknya tidak lalu di tanggal 4 Syawal puasa lagi, begitu seterusnya.
Di acara menjalankan ibadah puasa Syawal ini sama-sama mendapatkan kesunahan puasa di bulan tersebut, Wallahu a’lam.***

Share this article
Begini penjelasan ulama terkait bolehkah puasa Syawal dikerjakan secara terpisah atau tak berurutan?