AYOJAKARTA.COM - Menyambut bulan Ramadhan bukan sekadar ritual tahunan, tetapi merupakan kesempatan untuk menguji keimanan seseorang.
Buya Yahya dalam ceramahnya menekankan dengan tegas bahwa Ramadan adalah alat ukur keimanan setiap muslim.
"Bicara tentang Ramadan ini pertama dan utama adalah kita jadikan Ramadan sebagai alat tes keimanan, sebab riwayat tentang Ramadan semuanya ada hubungannya 'imanan wahtisaban', keimanan," jelas Buya Yahya dalam YouTube Al Bahjah TV.
Baca Juga: Catat! Inilah Kriteria Ojol dan Kurir yang Bisa Dapat THR, Salah Satunya Harus Online 9 Jam per Hari
Untuk menggambarkan konsep ini, beliau menganalogikan dengan seorang pebisnis yang akan sangat antusias menantikan diskon besar-besaran karena potensi keuntungan yang bisa diperoleh.
Seorang muslim yang beriman, menurut Buya Yahya, akan menantikan Ramadhan dengan semangat yang sama karena menyadari potensi kemuliaan dan keberkahan yang ditawarkan bulan suci ini.
"Ramadan bulan yang akan datang ini adalah untuk mengetes kita. Kalau kita saat ini tidak ada kerinduan, tidak ada semangat untuk menyambut Ramadan, mempersiapkan diri untuk bertemu Ramadan, maka keagungan Ramadan akan berlalu begitu saja," tegas Buya Yahya.
Beliau menekankan bahwa tidak perlu lagi membahas keagungan Ramadan yang sudah jelas, tetapi lebih penting untuk mengevaluasi sejauh mana persiapan diri dalam menyambut bulan suci tersebut.
Persiapan menyambut Ramadan menurut Buya Yahya dapat dibagi menjadi dua aspek penting: persiapan lahir dan persiapan batin.
Untuk persiapan lahir, Buya Yahya menyarankan beberapa hal praktis seperti menyiapkan mushaf Al-Quran, membuat jadwal belajar agama, dan mengatur waktu untuk mengikuti kajian-kajian Ramadan.
Baca Juga: Universitas Vrije Amsterdam Gelar Nonton Bareng Film Colonial Debris
"Saya pengin Pesantren udara ini, saya harus ikut ini. Pastikan cuma tiga waktu saja kok sehari Ramadan. Pagi, siang, sore. Saya pastikan saya harus ngaji, mumpung Ramadan ini," ungkap Buya Yahya memberikan contoh bagaimana seseorang harus mengatur waktunya dengan disiplin.
Persiapan lahir lainnya meliputi penentuan target membaca Al-Quran, misalnya satu atau dua juz dalam sehari, merencanakan waktu untuk shalat tarawih, dan menyiapkan sedekah untuk berbuka puasa.
Buya Yahya juga menyarankan untuk mempersiapkan kegiatan amal seperti mengirimkan makanan berbuka puasa kepada tetangga sebagai bentuk silaturahmi.
"Kami menghimbau di hari-hari ini dan hari selanjutnya juga untuk buka bersama itu lebih enak kita kirim saja, karena banyak buka bersama yang dibuat itu saat ini malah menjadikan tarawih hilang dan segala macam kebaikan-kebaikan itu menjadi hilang gara-gara buka bersama," tambah Buya Yahya.
Beliau menekankan pentingnya mempertahankan esensi ibadah Ramadan tanpa terdistraksi dengan aktivitas sosial yang berlebihan.
Sementara itu, persiapan batin menurut Buya Yahya tidak kalah pentingnya dalam menyambut Ramadan.
Baca Juga: Intip Spesifikasinya Yuk! Vivo V50: Smartphone Tipis dengan Baterai Jumbo dan 6 Fitur AI Canggih
Beliau menjelaskan bahwa sejak sekarang umat Islam sebaiknya mulai memperbanyak istighfar dan memohon pertolongan Allah agar diberi kemudahan dalam menjalankan ibadah Ramadan.
"Dari hari ini sudah mulai memperbanyak istighfar, minta ampun kepada Allah dan minta tolong agar kita diberi pertolongan oleh Allah, termasuk doa 'Ya Allah, sampaikan kami kepada Ramadan dan mudahkan Ramadan'," tutur Buya Yahya.
Beliau juga menekankan pentingnya memperbaiki hubungan dengan sesama manusia sebelum Ramadan tiba.
Buya Yahya mengenang tradisi para pendahulu yang menjalin silaturahmi dengan tetangga melalui berbagi makanan menjelang Ramadan, yang di kampung halamannya di Blitar disebut sebagai 'megangan' atau 'lemengan'.
"Sebelum Ramadan itu adalah saat-saat mereka untuk tukar-menukar makanan dalam irama silaturahmi," kenang Buya Yahya sambil menceritakan pengalaman indahnya di kampung halaman.
Baca Juga: Gebrakan Baru! Tecno Pova 7 Pro Plus 5G: Flagship Killer Rp4 Jutaan dengan Dimensity 8350
"Masyaallah suasana enak, kadang-kadang suka kepala, saya kepala, kepala. Nah saya ekor, saya ceker-ceker," tambahnya.
Tradisi ini, menurut Buya Yahya, bertujuan untuk mempertemukan hati dan menghilangkan rasa dengki serta dendam.
Sehingga ketika Ramadan tiba, umat Islam dapat lebih mudah beribadah dan saling mengajak dalam kebaikan.
"Hilangkan dengki, benci dan seterusnya, hilangkan dendam. Jadi untuk minta maaf jangan nunggu lebarannya, bahkan ini saat indah, momen luar biasa, mumpung Ramadan," kata Buya Yahya mengakhiri pembahasannya.***

Share this article
Persiapan menyambut Ramadan menurut Buya Yahya dapat dibagi menjadi dua aspek penting: persiapan lahir dan persiapan batin.