AYOJAKARTA.COM- Banyak orang penasaran dengan Rebo Wekasan, asal usul, dan alasan mengapa dikaitkan dengan sejumlah larangan atau mitos.
Apakah itu Rebo Wekasan, dan kapan akan tiba?
Diketahui Rebo Wekasan pada tahun 2022 ini akan jatuh pada hari Rabu, 21 September.
Hari Rebo Wekasan adalah istilah untuk menyebut hari Rabu terakhir bulan Safar yang diyakini sebagai turunnya mara bahaya.
Adapun per tanggal 29 Agustus 2022 lalu, menurut penanggalan Islam kita mencapai bulan Safar.
Bulan Safar adalah bulan kedua dalam kalender Hijriah, tepatnya setelah bulan Muharram.
Lalu bagaimana asal-usul Rebo Wekasan itu sendiri?
Masyarakat di berbagai daerah di Indonesia menyakini Rebo Wekasan memiliki makna tersendiri.
Sehingga mereka membarengi melakukan amalan ataupun ritual khusus ketika hari itu tiba.
Sebagian umat Islam pun percaya bahwa saat Rebo Wekasan ini merupakan hari pertama Nabi Muhammad SAW jatuh sakit sampai beliau meninggal dunia.
Lantas, bagaimana Rebo Wekasan bisa menjadi tradisi dan perayaan rutin di masyarakat di Indonesia?
Mengutip Suara.com, dalam artikel Asal-usul Rebo Wekasan Mulai Awal Abad ke-17, Masa Penyebaran Dakwah Wali, berikut ini penjelasan asal-usul Rebo Wekasan.
Tradisi Rebo Wekasan pertama kali dilaksanakan pada masa penyebaran dakwah Wali Songo.
Saat itu banyak ulama yang menyebutkan jika pada bulan Safar, Allah SWT menurunkan lebih dari 500 macam penyakit.
Sebagai upaya mengantisipasi terjangkitnya penyakit dan terhindar dari segala musibah, kemudian banyak ulama melakukan tirakat, banyak beribadah dan juga berdoa.
Baca Juga: Link Lagu Soundtrack Sinetron Tahun 1990an, Sebagian Sudah Dibuat Versi Layar Lebar
Tujuannya agar Allah menjauhkan diri dari segala penyakit dan malapetaka yang dipercaya diturunkan ketika hari Rabu terakhir di bulan Safar.
Berlanjut hinga kini, tradisi tersebut masih terus dilestarikan oleh sebagian umat Islam di beberapa daerah di Indonesia dengan sebutan Rebo Wekasan.
Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa tradisi Rebo Wekasan muncul pada awal abad ke-17 di Aceh, Sumatera, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi, serta Maluku.
Di Aceh, tradisi Rebo Wekasan ini dikenal dengan istilah Makmegang. Masyarakat akan melakukan ritual di tepi pantai dengan berdoa bersama yang kemudian dipimpin oleh seorang Teungku.
Para tokoh agama, tokoh masyarakat dan berbagai warga Aceh akan turut dalam doa tersebut.
Sementara di Jawa, tradisi Rebo Wekasan biasanya akan dilakukan oleh masyarakat pesisir pantai dengan tata caranya masing-masing.
Baca Juga: Larissa Chou Siap Menikah Lagi, Inilah Sosok Pria yang Diduga Pengganti Alvin Faiz
Sebut saja di Banten dan Tasikmalaya, tradisi Rebo Wekasan akan diisi dengan ibadah sholat khusus bersama-sama pada pagi hari di hari Rabu terakhir bulan Safar tersebut.
Di Bantul, DIY tepatnya di daerah Wonokromo, masyarakat membuat lemper berukuran raksasa yang dibagikan kepada warga ataupun orang yang menghadiri acara tersebut
Di Banyuwangi, Rebo Wekasan digelar dengan cara memakan nasi yang dibuat secara khusus di sepanjang tepi jalan.
Baca Juga: Ini Dia Hasil Sidang Banding Ferdy Sambo, Selangkah Lagi Menuju Eksekusi?
Lalu, di Kalimantan Selatan, tradisi Rebo Wekasan disebut dengan Arba Mustamir.
Tradisi ini diadakan dengan berbagai cara, ada yang mengerjakan sholat sunnah disertai pembacaan doa tolak bala.
Hingga selamatan kampung dengan warganya yang tidak bepergian jauh, tidak melanggar pantangan, dan mandi Safar yang bertujuan untuk membuang sial.
DISCLAIMER : banyak sumber soal Rebo Wekasan, meyakini atau tidak di luar ranah redaksi.***

Share this article
Berikut pembahasan tentang Rebo Wekasan, Asal Usul Mulai Mulai Awal Abad ke-17 hingga Tradisinya di Indonesia saat ini