AYOJAKARTA.COM - Ada banyak orang yang belum membayar utang puasa Ramadan padahal sudah lewat dua kali berturut-turut.
Entah karena lupa atau hal lain, ada saja alasan yang membuat seseorang tak membayar utang puasa Ramadan hingga dua kali berturut-turut.
Di artikel ini akan dijelaskan bagaimana hukum membayar utang puasa Ramadan yang sudah terlewat dua kali berturut-turut.
Berikut penjelasan terkait masih bolehkah membayar utang puasa Ramadan yang sudah terlewat dua kali seperti dikutip Ayojakarta.com dari laman Lazismu, Rabu 11 Januari 2023.
Dalam Surah Al Baqarah (2): 184 Allah berfirman:
“(yaitu) Dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka) maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” [QS. Al Baqarah (2): 184]
Maka dari ayat tersebut terdapat golongan yang mendapat rukhsah atau keringanan untuk tidak melaksanakan puasa Ramadan.
Tetapi dibebankan kepada mereka untuk mengganti puasa yang mereka tinggalkan.
Baca Juga: Niat Puasa Rajab 2023 Lengkap dengan Keutamaannya, Yuk Lakukan Agar Dapat Kemuliaan dari Tuhan
Lalu golongan siapa sajakah yang mendapat keringanan untuk tidak melaksanakan puasa?
Pertama, orang yang sakit dan orang yang dalam perjalanan boleh tidak berpuasa pada bulan Ramadan tetapi orang tersebut wajib mengganti (qadla) pada hari lain.
Adapun yang dimaksud hari yang lain adalah hari di luar bulan Ramadan.
Golongan ini sama dengan perempuan yang sedang haid dan tidak berpuasa Ramadan, maka wajib mengganti puasa (qadla) di luar bulan Ramadan.
Kedua, orang yang merasa berat untuk berpuasa maka ia wajib mengganti dengan membayar fidyah, tidak perlu mengganti dengan puasa (qadla).
Adapun yang termasuk dalam golongan ini adalah orang yang sudah tua seperti hadis dari Ibnu Abbas:
“Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa ia berkata: Telah diringankan bagi orang yang sudah tua untuk berbuka puasa (di bulan Ramadhan) dan memberi makan (fidyah) kepada orang miskin setiap hari (sesuai dengan hari yang ia tidak puasa) dan tidak wajib mengganti dengan puasa (qadla).” [HR. al-Hakim, hadis ini shahih menurut syarat al-Bukhari]
Juga termasuk di dalamnya adalah perempuan yang hamil dan perempuan yang sedang dalam masa menyusui, sebagaimana perkataan Ibnu Abbas kepada seorang ibu yang hamil:
“Engkau termasuk orang yang berat berpuasa, maka engkau wajib membayar fidyah dan tidak usah mengganti puasa (qadla).” [HR. al-Bazar dan dishahihkan ad-Daruquthni].
“Diriwayatkan dari Anas bin Malik, bahwa ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah membebaskan puasa dan separuh shalat bagi orang yang bepergian serta membebaskan puasa dari perempuan yang hamil dan menyusui.” [HR. an-Nasa’i]
Baca Juga: Puasa Bulan Rajab 2023 Jatuh Pada Tanggal Berapa? Cek di Sini Lengkap dengan Niatnya
Menurut Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, penyebab batalnya puasa adalah karena sakit, maka caranya adalah mengganti dengan puasa (qadla) di hari lain di luar bulan Ramadan.
Tidak perlu membayar fidyah.
Hal ini karena fidyah hanya diperuntukkan bagi orang tertentu yang dalam kategori “yutiqunahu” atau orang yang berat untuk berpuasa.
Sedangkan waktu untuk membayar puasa adalah pada hari-hari lain di luar bulan Ramadan dan berdasarkan keumuman ayat tersebut tidak ada batas akhir waktu kapan harus mengganti puasa (qadla).
Namun demikian baik sekali jika mengganti puasa dilaksanakan sebelum Ramadan berikutnya.
Tetapi jika tidak bisa melakukannya karena ada hal yang membuat terhalang, maka tetap harus diganti setelah Ramadan berikutnya.
Selain itu, orang yang telah lalai tersebut dianjurkan agar beristighfar, memohon ampun dan bertaubat untuk tidak mengulangi kelalaiannya dan tetap wajib membayar utang puasanya setelah Ramadan berikutnya.***

Share this article
Berikut penjelasan terkiat bolehkan membayar utang puasa Ramadan yang sudah lewat dua kali berturut-turut.