AYOJAKARTA.COM -- Usai pengumumkan masa kampanye Pilkada Serentak 2024 resmi diagendakan, sebanyak 545 paslon di berbagai daerah mulai berkontestasi.
Tersebar di sebanyak 37 Provinsi dan 415 Kabupaten serta 93 Kota di Indonesia, masing-masing paslon akan berebut dukungan dalam perhelatan Pilkada Serentak 2024.
Pilkada Serentak 2024 disikapi oleh setiap paslon yang telah mendapat dukungan dari koalisi parpol maupun independen dengan menggunakan berbagai cara dan strategi.
Terkait dengan strategi kampanye, pasangan Rido yang berlaga di Pilkada Jakarta mengaku sudah menyiapkan empat pendekatan.
Selain blusukan untuk menyapa langsung warga, Rido juga berencana melakukan diskusi terbuka, acara pasar murah serta kunjungan ke tokoh publik saat Pilkada Jakarta.
Berbeda dengan Rido yang didukung koalisi gemuk, paslon independen Dharma-Kun justru berencana memulai kampanye dari jalan Jendral Sudirman yang menjadi Titik Nol Jakarta.
Sementara pasangan Pramono-Rano yang berkontestasi di Pilkada Jakarta lebih memilih untuk blusukan sambil menunggu hasil zonasi kampanye yang akan ditetapkan KPU.
Perhelatan Pilkada Serentak 2024 di Indonesia, selain diwarnai dengan strategi untuk mencapai kemenangan juga dihiasi dengan fenomena Kotak Kosong.
Sebagian pemilih di 37 daerah menilai, Kotak Kosong merupakan representasi kecewa atas sikap parpol yang dinilai tidak mampu menyerap aspirasi suara akar rumput.
Sehubungan dengan munculnya fenomena Kotak Kosong atau calon tunggal, Titi Anggraini selaku Dosen Ilmu Pemilu UI dan Dewan Penasihat Perludem memberi tanggapan.
Menurut Titi, dalam berbagai perhelatan kontestasi setiap suara memiliki muatan nilai yang sangat menentukan terhadap hasil perolehan.
Bukan sekedar muatan kuantitas, setiap satu suara pemilih menurut Titi juga memiliki substansi kualitas yang akan berpengaruh besar pada hasil pemilihan di masa depan.
Suara, menurut Titi harus mampu mencerminkan dan merupakan refleksi keinginan baik pribadi, keluarga, masyarakat serta sebagai suatu bangsa.
“Suara itu adalah cerminan martabat diri kita, karena negara ingin mendengar secara setara, maka setiap suara dihargai satu,” ungkap Titi.
Dalam prosesnya, menentukan atau memberikan suara kepada salah satu calon sangat membutuhkan berbagai pertimbangan.
Titi menambahkan, salah satu aspek terpenting yang harus disadari dan menjadi perhatian bagi setiap pemilih adalah rekam jejak, visi, dan gagasan dari para kontestan.
Dengan mengetahui rekam jejak calon unggulan, maka harapan-harapan yang bersifat pribadi hingga nasional bisa terwakili sesuai dengan peruntukannya.
“Visi-misi, rekam jejak dan program yang ditawarkan harus sejalan,” jelas Titi.***
Share this article
Pilkada Serentak 2024 di Indonesia, selain diwarnai dengan strategi untuk mencapai kemenangan juga dihiasi dengan fenomena Kotak Kosong.