AYOJAKARTA.COM -- Usai nomor urut pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur diumumkan KPU, persaingan merebut dukungan di Pilkada Jakarta resmi dilangsungkan.
Berdasarkan hasil pengundian Pilkada Jakarta, pasangan Rido mendapati nomor urut Satu, Dharma-Kun di urutan Kedua dan Pramono-Rano mendapat nomor urut Tiga.
Berbekal program dan gagasan visioner di masa depan, masing-masing kontestan Pilkada Jakarta berlomba untuk meraih dukungan suara.
Lewat masa kampanye Pilkada Jakarta yang dimulai 25 September hingga 23 November 2024, setiap pasangan akan bersaing meraih simpati warga Jakarta.
Harga Sembako, Peluang Kerja, Banjir, Kemacetan, Penanganan Sampah hingga Polusi Udara merupakan persoalan warga Jakarta yang membutuhkan penanganan.
Terkait dengan peliknya persoalan yang menyelimuti Kota Jakarta, Trubus Rahardiansah selaku Pakar Kebijakan Publik sempat memberikan tanggapan.
Menurut Trubus, kota Jakarta yang berpenduduk heterogen sangat membutuhkan sosok pemimpin yang memiliki kekuatan dalam membuat kebijakan publik.
“Pemimpin yang dibutuhkan oleh warga Jakarta haruslah memiliki kekuatan dalam mengambil kebijakan,” ungkap Trubus.
Disamping tahan mental menghadapi tekanan dari Pemerintah Pusat, Gubernur Jakarta juga harus cakap menghadapi tekanan yang mungkin muncul dari golongan tertentu.
Selain kedua aspek penting tersebut, Trubus juga menilai calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta juga wajib memiliki kemampuan merangkul seluruh golongan.
Kemampuan tersebut, menurut Trubus penting untuk meminimalisir munculnya potensi persinggungan kepentingan antara Konglomerasi dan pihak lain.
“Warga yang tinggal di komplek mewah atau di kolong jembatan, itu membutuhkan seorang pemimpin yang mampu mengadvokasi, membimbing,” imbuhnya.
Lebih lanjut Trubus menambahkan, hal lain yang dibutuhkan oleh warga Jakarta dari seorang Gubernur di masa depan adalah bersedia untuk menjunjung tinggi aturan.
Keseluruhan persyaratan tersebut, menurut Trubus merupakan hal mendasar dan penting dimiliki calon Gubernur untuk mengurai berbagai persoalan Jakarta.
Selain disampaikan oleh Pakar Kebijakan Publik, hal serupa terkait kemampuan seorang Gubernur juga diungkapkan oleh Pengamat Politik Universitas Al Azhar.
Menurut Ujang Komarudin, pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur haruslah sosok yang memiliki kualitas, kapabilitas atau kemampuan menyelesaikan problematik di Jakarta.
Banjir dan kemacetan, menurut Ujang merupakan dua permasalahan klasik yang setiap tahun selalu menjadi akar persoalan.
Karena itu, Ujang menilai salah satu bukti keberhasilan Gubernur dan Wakil Gubernur di masa depan adalah kemampuan menyelesaikan masalah banjir dan kemacetan.
Bukan saja masalah klasik, Gubernur dan Wakil Gubernur juga harus mampu untuk bisa menuntaskan persoalan kekinian seperti kemiskinan.***

Share this article
Lewat masa kampanye Pilkada Jakarta yang dimulai 25 September hingga 23 November 2024, setiap pasangan akan bersaing meraih simpati warga.