AYOJAKARTA.COM - Deklarasi Cakada Gelombang Ketiga PDIP, hingga saat ini masih belum mencuatkan nama figur yang akan berlaga di Pilkada Jakarta.
Sebelumnya, santer berhembus di telinga publik perihal nama Anies Baswedan dan Ahok yang digadang akan diikutsertakan oleh PDIP sebagai kandidat peserta Pilkada Jakarta.
Namun hingga deklarasi tersebut berakhir, sosok yang akan didukung oleh PDIP di Pilkada Jakarta masih menjadi pertanyaan.
Menjadi figur penting di perhelatan Pilkada Jakarta, sosok Anies Baswedan serta Ahok diketahui termasuk dalam survei dengan elektabilitas tertinggi.
Berbeda dengan Ahok yang merupakan kader PDIP, Anies dengan elektabilitas tertinggi justru tidak memiliki dukungan partai.
Berbagai spekulasi terkait besaran potensi dari kedua tokoh nasional untuk mengisi kursi Pilkada Jakarta tersebut, banyak bermunculan.
Sehubungan dengan adanya beragam perspektif yang mencuat di tengah masyarakat, Pengamat Politik asal UIN Syarif Hidayatullah, Adi Prayitno memberi tanggapan.
Menurut Adi Prayitno, peluang bagi Anies Baswedan untuk mendapat dukungan dari PDIP di Pilkada Jakarta relatif cukup besar.
Meski merupakan tokoh non partisan, Anies Baswedan selalu menjadi tokoh eksternal yang masuk dalam radar PDIP.
Disamping itu, antara Anies Baswedan dan PDIP menurut Adi Prayitno memiliki historis stigma yang relatif sama menjelang perhelatan Pilkada Jakarta.
“PDIP dan Anies Baswedan ini sama-sama memiliki historisitas yang sama, sama-sama dikucilkan, dikerdilkan, sama-sama tidak diajak dalam koalisi besar,” ungkap Adi dikutip dari kanal YouTube Kompas TV, Senin (26/8/2024).
Adapun penyebab ketiga yang membuat potensi Anies menjadi jauh lebih besar dibandingkan kader PDIP sendiri adalah faktor kompetitif.
Menghadapi lawan politik yang berasal dari Koalisi Indonesia Maju Plus, PDIP menurut Adi membutuhkan sosok seperti Anies.
Terlebih karena Anies juga memiliki keinginan untuk berlaga di Pilkada Jakarta, sehingga variabel-variabel tersebut dapat melahirkan sinergitas politik.
“Di PDIP ada nama-nama besar, tetapi harus diakui jika dihadapkan dengan Ridwan Kamil nama-nama tersebut tidak kompetitif,” imbuh Adi.
Mengacu pada sejumlah variabel tersebut, Adi meyakini bahwa keputusan terbaik yang dimiliki PDIP adalah dengan menetapkan Anies sebagai kontestan di Pilkada Jakarta.
Mencantumkan nama Anies dalam daftar, selain akan dapat menggerus kekuatan KIM Plus juga lebih berpeluang mendapat dukungan personal dari pendukung Anies.
Terkait dengan adanya disparitas ideologis antara Anies dengan PDIP, Adi menilai hal tersebut akan mengalami pelunakan.
Meski PDIP dikenal sebagai partai kader, Adi melihat hal tersebut akan mengalami pengecualian di dalam menyiasati Pilkada Jakarta. ***

Share this article
Benarkah Anies Baswedan batal maju cagub di Pilkada Jakarta tahun 2024? Simak info selengkapnya di sini.