AYOJAKARTA.COM- Masyarakat Indonesia beberapa waktu ini harus akrab dengan bencana hidrometeorologi yang melanda di beberapa wilayah.
Curah hujan yang masih tergolong cukup tinggi membuat banjir terjadi bahkan sukses melumpuhkan kegiatan masyarakat.
Para Pemimpin daerah pun kemudian memutar otak agar banjir di wilayahnya cepat surut, namun dibalik itu semua ada sebuah teknologi terkini dalam mengurangi curah hujan yakni dengan cara memodifikasi cuaca.
Baca Juga: Waspada Hujan Ringan! Ini Prakiraan Cuaca Jakarta Selatan Minggu 25 Februari 2023
Dikutip AyoJakarta.com dari laman brin.go.id (28/2/2023), Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) awalnya digunakan untuk diaplikasikan di Indonesia fokusnya untuk mendukung sektor pertanian dengan cara mengisi waduk-waduk strategis baik untuk kebutuhan PLTA atau irigasi.
Bahkan dijelaskan oleh Koordinator Laboratorium Pengelola Teknologi Modifikasi Cuaca Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Budi Harsoyo, dalam satu dekade terakhir, frekuensi bencana hidrometeorologi semakin meningkat, baik kebakaran hutan dan lahan, longsor, dan banjir. Sehingga pengaplikasian TMC berkembang untuk memitigasi bencana.
Salah seorang peneliti BRIN Dr. Erma Yulihastin menambahkan melalui akun Twitternya (28/2/2023), terkait teknologi memodifikasi cuaca yang diperlukan riset terlebih dahulu sebelum melakukannya.
Lebih lanjut Erma mengatakan bahwa jangan melakukan modifikasi cuaca untuk kondisi gangguan cuaca skala tertentu, karena bisa berakibat fatal.
Baca Juga: Update BMKG! Terjadi Gempa 2.5 Magnitudo yang Guncang Kabupaten Sigi Sulawesi Tengah
"Jangan Modifikasi Cuaca. Untuk kondisi gangguan cuaca skala sinoptik yang sangat dominan seperti saat ini, mohon jangan melakukan modifikasi cuaca karena efeknya tidak bisa divalidasi secara ilmiah, bahkan bisa berujung fatal," cuit Erma melalui akun Twitternya.
Selain itu Erma menambahkan bahwa Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memberikan catatan mengenai penggunaan TMC:
1. Modifikasi cuaca merupakan teknologi yang masih berkembang;
2. Ketidakpastian antara potensi resiko/manfaat dari penerapan modifikasi cuaca;
3. Energi dalam sistem cuaca sangat besar sehingga tidak mungkin untuk membuat hujan badai buatan, mengubah pola angin untuk membawa uap air ke wilayah tertentu atau menghilangkan fenomena cuaca ekstrem;
4. Variabilitas hujan lebih signifikan daripada peningkatan atau pengurangan hujan yang diklaim sebagai hasil dari modifikasi cuaca.
Erma juga menjelaskan bahwa untuk meningkatkan keberhasilan modifikasi cuaca, WMO merekomendasikan riset atau studi awal di daerah target yang mencakup:
1. Studi statistik terkait klimatologi dan karakteristik awan dan hujan;
2.Kondisi yang sesuai untuk teknik modifikasi cuaca yang diterapkan;
3. Studi pemodelan numerik atau simulasi model untuk mendukung hipotesis;
4. Pertimbangan sosial-ekonomi dan lingkungan;
5. Modifikasi cuaca harus dilihat sebagai bagian dari strategi pengelolaan sumber daya air yang terintegrasi.***)

Share this article
Modifikasi cuaca memang kini dapat dilakukan dengan sangat mudah. Namun, BRIN mengingatkan agar perlu berhati-hati dalam melakukannya.