AYOJAKARTA.COM - Beberapa hari belakangan banyak masyarakat Indonesia yang merasakan adanya perubahan suhu pada malam hingga dini hari.
Perubahan suhu teersebut dirasakan di beberapa daerah di Indonesia di bulan Juli ini.
Fenomena tersebut disebut dengan istilah bediding.
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengatakan bahwa fenomena bediding bisa dirasakan dengan suhu udara yang turun drastis ketika malam hingga pagi hari.
Ketua Tim Kerja Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG, Ida Pramuwardani, mengatakan bahwa fenomena bediding umum terjadi di Indonesia.
Ida mengungkapkan bahwa fenomena bediding ini umum terjadi meski sedang di musim kemarau.
“Fenomena bediding umum terjadi di Indonesia. Puncaknya terjadi pada musim kemarau terutama Juli sampai September,” kata Ida dikutip dari kanal YouTube Kompas TV pada Senin (15/7/2024).
Ida menjelaskan bahwa perubahan suhu yang terjadi saat bediding bisa mencapai titik beku.
Apa itu bediding?
Bediding adalah kata serapan Bahasa Jawa yaitu ‘bedhidhing’ yang artinya perubahan suhu yang mencolok, seringnya terjadi pada musim kemarau.
Dalam klimatologi, fenomena bediding merupakan hal yang normal terjadi.
Baca Juga: Tanggapi Bakal Duet Kaesang-Jusuf Hamka di Pilgub Jakarta 2024, PAN: Kita Punya Zita Anjani
Hal ini terjadi karena berhubungan dengan kondisi atmosfer saat musim kemarau.
Fenomena ini bisa terjadi karena empat faktor yaitu udara kering, langit cerah, tipografi, dan ketiadaan angin.
Wilayah yang mengalami fenomena ini biasanya pada pagi hari suhunya terasa lebih dingin, dan saat siang cenderung panas.
Hal itu terjadi karena kurangnya uap air dan awan yang memugkinkan radiasi matahari langsung mencapai permukaan bumi terus menerus.
Share this article
Ketua Tim Kerja Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG, Ida Pramuwardani, mengatakan bahwa fenomena bediding umum terjadi di Indonesia.